Indonesia Sudah Merdeka 75 Tahun, Pengusaha: Tapi Ekonomi Belum

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 17 Agu 2020 14:00 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi secara kumulatif atau sampai September 2018 sebesar 5,17%.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Indonesia sudah memasuki usia ke-75 tahun dalam kemerdekaan. Namun sampai saat ini Indonesia dinilai belum merdeka secara ekonomi.

"Indonesia sudah merdeka 75 tahun, apakah kita sudah merdeka dari semuanya? Kita bisa merdeka dari penjajahan, tapi kita belum merdeka dari perekonomian. Perjuangan-perjuangan itulah yang harus kita bisa perjuangkan," kata Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Mardani H Maming dalam keterangan resmi dikutip detikcom, Senin (17/8/2020).

Maming mengatakan kemerdekaan Indonesia bisa dicapai dengan peran dari anak-anak muda Indonesia dalam menjaga kedaulatan ekonomi Indonesia. Kemerdekaan ekonomi tersebut bisa dicapai jika pemikiran anak muda Indonesia mulai berubah dari pola pikir bekerja untuk orang lain, menjadi bekerja secara mandiri dan mempekerjakan orang lain.

"Kita harus selalu mengingat, tidak ada sejarah negara dan tidak ada sejarah bangsa ini yang bisa merubah. Kecuali yang merubah adalah anak muda," ujarnya.

Dirinya menyadari bahwa pandemi COVID-19 telah menghantam khususnya ke semua lini, tidak lepas dari pengusaha muda. Salah satu solusinya adalah memperjuangkan untuk harus merdeka dari perekonomian bangsa dan negara.

"Ekonomi bisa ditingkatkan jika banyak bermunculan entrepreneur muda yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Untuk menjadi negara maju kita butuh 10% jumlah penduduk untuk menjadi pengusaha, maka tingkat pengangguran di Indonesia bisa dikurangi dan pergerakan ekonomi bisa meningkat," ucapnya.

Mantan Bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan itu menyebut 5 hingga 10 tahun ke depan pemimpin bangsa Indonesia adalah anak muda dalam memasuki era bonus demografi. Pemerintah dinilai harus membuat regulasi agar anak muda berani menjadi pengusaha dan harus diberi kesempatan oleh pemerintah. Jika tidak, maka bukan era bonus demografi yang dihadapi, tetapi era bencana bonus demografi.

"Kalau tidak ada regulasi, mau jadi pengusaha takut, modal susah dan persaingan ketat. Kalau kita tidak membuat regulasi untuk anak muda, era bencana bonus demografi yang kita hadapi karena kita tidak mempersiapkan anak muda kalau tidak dibuat regulasinya, anak muda harus diberi kesempatan," ungkapnya.

Maming berharap, para pengusaha bisa berperan aktif menggerakkan perekonomian bangsa. Sehingga harapannya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) khususnya bisa lahir sebagai puncak perekonomian bagi bangsa dan negara.

"Peran pengusaha khususnya HIPMI di era new normal ini sangat diharapkan mampu membangun ekosistem sistem usaha yang sehat, serta berperan aktif dalam membangun ekonomi bangsa pasca pandemi COVID-19 seperti saat ini. Diharapkan, dapat menciptakan anak muda yang nasionalis dan harus bermain di negerinya sendiri untuk mendirikan suatu iklim ekonomi yang berpihak kepada anggota dengan diberi mandat," tuturnya.



Simak Video "Kapal Perang di Lantamal VI Bunyikan Sirene di Perayaan Kemerdekaan"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)