Neraca Pembayaran Surplus US$ 9,2 Miliar

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 18 Agu 2020 11:07 WIB
Bank Indonesia (BI) memprediksi neraca pembayaran Maret 2014 surplus pada kisaran US$ 500 juta. Surplus ini didorong peningkatan ekspor non migas, yang telah terjadi beberapa bulan terakhir.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2020 terdapat surplus yang cukup besar. NPI tercatat surplus sebesar US$ 9,2 miliar pada triwulan II-2020. Pada kuartal sebelumnya NPI mengalami defisit US$ 8,5 miliar.

Melansir laman resmi BI, Selasa (18/8/2020), membaiknya kinerja NPI tersebut didukung oleh menurunnya defisit transaksi berjalan serta besarnya surplus transaksi modal dan finansial. Sejalan dengan perkembangan surplus NPI tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2020 meningkat menjadi sebesar US$ 131,7 miliar.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,1 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional.

Defisit transaksi berjalan makin menurun, ditopang oleh surplus neraca barang serta berkurangnya defisit neraca pendapatan primer. Defisit transaksi berjalan tercatat sebesar US$ 2,9 miliar (1,2% dari PDB), lebih rendah dari defisit pada triwulan sebelumnya sebesar US$ 3,7 miliar (1,4% dari PDB).

Penurunan defisit transaksi berjalan tersebut bersumber dari surplus neraca perdagangan barang akibat penurunan impor karena melemahnya permintaan domestik.

Di samping itu, defisit neraca pendapatan mengecil karena berkurangnya pembayaran imbal hasil kepada investor asing sejalan dengan kontraksi pertumbuhan ekonomi domestik di triwulan II 2020 yang tercermin pada penurunan kinerja perusahaan dan investasi.

Sementara itu, defisit neraca jasa sedikit meningkat didorong oleh defisit jasa perjalanan karena kunjungan wisatawan mancanegara yang turun signifikan selama pandemi COVID-19. Di sisi lain, remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) berkurang, sejalan dengan kontraksi pertumbuhan ekonomi dunia juga menahan penurunan defisit transaksi berjalan lebih lanjut.

Lanjut halaman berikutnya>>>



Simak Video "BI: Kripto Bukan Alat Pembayaran Sah, Lembaga Keuangan Dilarang Pakai!"
[Gambas:Video 20detik]