ADVERTISEMENT

Kamu, Iya Kamu... Jadi Andalan Pemulihan Pariwisata dari Corona

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 20 Agu 2020 11:20 WIB
Orang-orang menyaksikan matahari terbit di sebuah pantai di Bali, Indonesia, Kamis (9/7/2020). Pulau resort di Bali dibuka kembali setelah tiga bulan terkunci akibat pandemi virus Corona pada Kamis ini. Pembukaan tahap pertama ini hanya untuk wisatawan dan penduduk lokal serta sebagian turis asing yang terdampar untuk melanjutkan kegiatan publik sebelum kembali dibuka untuk kedatangan orang asing pada September mendatang. (Foto AP / Firdia Lisnawati)
Foto: AP/Firdia Lisnawati
Jakarta -

Wisatawan domestik atau turis lokal menjadi andalan pemerintah saat ini dalam memperbaiki industri pariwisata Indonesia yang babak belur akibat pandemi COVID-19. Berbagai daerah terutama yang merupakan zona hijau, kuning dan orange COVID-19 diizinkan membuka kembali destinasi wisatanya untuk menarik wisatawan domestik.

"Daerah yang masuk zona hijau, kuning dan orange, Pemda-nya (pemerintah daerah) dapat mempertimbangkan untuk membuka destinasi wisatanya," ujar Staf Ahli Menteri bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) kepada detikcom, Rabu (19/8/2020).

Akan tetapi, pemerintah pusat mengembalikan lagi hak prerogatif tersebut kepada pemerintah daerah masing-masing untuk memutuskan, boleh tidaknya destinasi wisata di daerah mereka dibuka lagi untuk wisatawan domestik.

"Pada dasarnya pembukaan destinasi wisata itu adalah kewenangan pemerintah daerah, sehingga tidak ada izin yang dikeluarkan pemerintah pusat. Pemerintah pusat dan Satgas Penanganan COVID-19 hanya menyampaikan pertimbangan berdasarkan zonasi daerah yang disampaikan setiap minggu kepada publik," paparnya.

Hal ini ditangkap sebagai sinyal positif bagi para pelaku industri pariwisata Indonesia. Sebab, selama ini tanpa COVID-19 pun, jumlah kunjungan wisatawan di Indonesia masih didominasi oleh wisatawan domestik. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan domestik pada 2019 lalu mencapai 275 juta orang. Sedangkan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara masih jauh di bawah jumlah tersebut yakni sekitar 20 juta orang saja.

"Penduduk Indonesia itu jumlahnya besar, potensi wisatanya lebih dari 150 juta, sedangkan wisatawan mancanegara itu kan masih kecil, memang return-nya, per orangnya besar, tetapi domestik itu jumlahnya besar, turnover-nya tinggi, keluar masuk hotel, keluar masuk restoran, maka revenue-nya juga besar," ujar Wakil Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) sekaligus Founder De Solo Boutique Hotel and Restaurant, Sudrajat kepada detikcom, Rabu (19/8/2020).

Untuk itu, pihaknya enggan terlalu mendesak pemerintah untuk segera membuka Indonesia buat wisatawan mancanegara. Sebab, industri ini bisa lebih cepat pulih hanya dengan wisatawan domestik. Ditambah belum ada permintaan yang tinggi dari wisatawan mancanegara untuk masuk ke Indonesia, mengingat masih tingginya kasus COVID-19 di seluruh dunia. Bahkan, bila diizinkan masuk ke dalam negeri, dikhawatirkan akan menjadi klaster baru COVID-19.

"Mari kita tumbuh kembangkan dahulu wisatawan domestik dengan melihat kondisi COVID-19 yang sudah mengglobal ini, karena kalau kita mengharapkan wisatawan mancanegara itu penerbangannya juga kan masih susah, juga masyarakatnya masih pada worry untuk bepergian ke berbagai negara, jadi untuk apa kita mempromosikan wisatawan mancanegara di tengah kondisi seperti ini, malah dikhawatirkan menambah penyebaran COVID-19," pungkasnya.



Simak Video "Respons Sandiaga Uno atas Maraknya Kecelakaan Bus Pariwisata"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT