Pakar Sebut Masa Depan Pangan Indonesia Ada di Lautan, Ini Sebabnya

Nurcholis Maarif - detikFinance
Senin, 24 Agu 2020 22:02 WIB
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong nelayan di seluruh Indonesia agar dapat menggunakan E-Logbook, (21/10/2019).
Foto: Arbi Anungrah/detikcom
Jakarta -

Pakar Teknologi Pangan Prof. Dr. F.G. Winarno menyebut masa depan pangan Indonesia ada di lautan, bukan di daratan. Sebab selain karena sebagian besar wilayah Indonesia adalah lautan, potensi pangan di lautan juga melimpah.

Prof. Winarno menyarankan anak muda Indonesia mengubah konsep pangan yang saat ini terorientasi di daratan. Ia mencontohkan sekarang banyak ditemukan makhluk mikronano di laut yang katanya menjadi asupan nutrisi terbaik buat manusia.

"Karena raw material melimpah di laut. Orang di laut tidak perlu nanam, tinggal panen saja. Ikan tidak pernah nanam, lobster tidak pernah nanam, tinggal panen saja," ujar dia dalam virtual talkshow 'Inovasikan Pangan Indonesia' yang digelar Accelerice, Senin (24/8/2020).

"Yang penting sekarang ini bagaimana mulai sedikit demi sedikit merubah laut jadi orientasi baru. Kalau yang agak terlalu ekstrem, angkatan laut harus lebih diperbanyak dari angkatan darat, karena (wilayah laut Indonesia) lebih luas, menjaga (kekayaan) laut jangan dicuri, sumber-sumber plasma nutfah dijaga dengan baik," imbuhnya.

Sosok yang diakui sebagai Bapak Teknologi Pangan Indonesia ini berharap agar slogan 'jaya di laut' bukan hanya untuk angkatan laut, tetapi untuk pemuda dan seluruh bangsa Indonesia. Menurutunya, program tol laut bisa menjadi salah satu jalan untuk mengubah orientasi sumber pangan ke lautan. Selain itu, pendidikan peternakan juga tidak hanya disarankan ke sapi, domba, hingga ayam, tetapi juga ke ikan dan lobster.

Jika pun harus ke daratan anak muda bisa memaksimalkan produk seperti kelapa. Sebab Indonesia adalah produsen kelapa terbesar dunia, namun belum dimanfaatkan dengan maksimal.

"Kelapa itu produk yang luar biasa, kita adalah produsen kelapa terbesar. Di dalam kelapa air 300 cc itu adalah air yang steril dan isotonik, bisa disuntik ke pembuluh darah, tapi dibuang setiap hari jutaan liter hanya dengan alasan mau yang dibuat santan saja," ujarnya.

Lebih lanjut ia bicara tentang potensi pangan di Indonesia yang belum tertangani dengan baik, padahal punya sumber daya alam yang mampu dan menjadi negara kedua terbesar sebagai pusat biodiversity setelah Brazil.

"Banyak produk asli yang melempem di dunia dan tidak tertangani, kita ingin kawula muda bergerak maju untuk mengambil offer, kekayaan yang masih tenggelam dan belum dipasarkan," ujarnya.

Sebagai informasi, dalam virtual talkshow 'Inovasikan Pangan Indonesia' tersebut, turut hadir pembicara lain, yaitu pakar kuliner Indonesia William Wongso dan Direktur Utama Smesco Indonesia Leonard Theosabrata.

Adapun Accelerice sebagai penyelenggara acara merupakan ini merupakan akselerator food startup Indonesia. Lewat acara #FutureFood Day tersebut, Accelerice ingin mewadahi food innovator yang memiliki ide, riset, dan solusi dalam bentuk bisnis untuk dikembangkan dalam skala besar.

(prf/hns)