Saat Pandemi, Kementan: Sektor Lain Terpuruk, Pertanian Tumbuh Positif

Inkana Putri - detikFinance
Selasa, 25 Agu 2020 19:18 WIB
petani
Foto: shutterstock
Jakarta -

Sejak awal pandemi, Kementan telah menjalankan berbagai program, bahkan kini sektor pertanian diklaim menjadi penopang utama perekonomian nasional. Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementan, Kuntoro Boga Andri menyatakan sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang tidak terdampak oleh pandemi COVID-19. Dia melanjutkan, saat sejumlah pertumbuhan ekonomi nasional dan sektor penunjangnya mengalami penurunan akibat pandemi, sektor pertanian justru mengalami pertumbuhan positif bahkan menjadi penyelamat dan penggerak perekonomian nasional.

"Kita lihat dari data BPS, di saat pandemi COVID-19 belum juga usai, sejumlah sektor lain cenderung terpuruk. Pertumbuhan ekonomi Indonesia turun sampai 4,19 persen (q to q). Hanya sektor pertanian yang tangguh, tumbuhnya positif," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (25/8/2020).

Berdasarkan data BPS, pada kuartal II 2020 PDB sektor pertanian menjadi penyumbang tertinggi pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia dengan pencapaian 16,24 persen (q to q). Meningkatnya PDB sektor pertanian secara berturut-turut pada kuartal I dan II di tahun 2020 menandakan adanya dampak positif di sisi hulu, hilir, bahkan jasa penunjang pertanian.

"Sesuai arahan Bapak Menteri SYL, Kementan tetap bekerja ke lapangan setiap harinya untuk selalu hadir dan membantu petani, peternak, serta masyarakat yang butuh dukungan di masa pandemi seperti saat ini. Bantuan benih, pupuk, alat mesin pertanian, fasilitas dana KUR, asuransi pertanian dan pendampingan teknologi masif dilakukan," jelasnya.

Lebih lanjut, Kuntoro menjelaskan dalam peningkatan produksi, Kementan melakukan beberapa upaya dengan memberikan bantuan sarana produksi, alat pra panen dan pasca panen. Kementan juga terus mendorong para petani untuk menggunakan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR) dan pengembangan pertanian berbasis korporasi dan klaster.

"Upaya peningkatan produksi terus dilakukan Kementan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, mengurangi impor dan meningkatkan volume ekspor. Keberhasilan program KUR sangat dirasakan petani, contoh salah satu korporasi di Lombok Timur dengan luas lahan 7.000 hektar mampu serap KUR Rp 105 miliar," paparnya.

Menurutnya, kerja keras Kementan bersama pemerintah daerah, pihak terkait dan petani sebagai pahlawan pangan selama masa pandemi sangat dirasakan dampaknya, termasuk terhadap kesejahteraan petani. BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga mengalami kenaikan. Adapun rinciannya yakni, NTP nasional Juli 2020 sebesar 100,09 atau naik 0,49 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Sementara NTUP nasional Juli 2020 sebesar 100,53 atau naik 0,28 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

"Hingga saat ini, kekhawatiran potensi terjadinya krisis pangan di banyak negara akibat terbatasnya aktivitas produksi dan distribusi karena adanya pembatasan sosial tidak berpengaruh terhadap penyediaan pangan di Indonesia," ujarnya.

Kuntoro menambahkan kerja keras para pahlawan pangan selama pandemi juga berhasil mendongkrak nilai ekspor. Berdasarkan data BPS tercatat nilai ekspor produk pertanian pada bulan April 2020 tumbuh sebesar 12,66 persen dan nilai ekspor pada bulan Juni meningkat sebesar 18,9 persen dibanding Mei 2020. Sementara ekspor pertanian April 2020 sebesar US$ 0,28 miliar atau tumbuh 12,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 (YoY).

"Capaian positif di sektor pertanian saat ini terjadi di tengah lesunya ekspor pada sektor lain, tentunya hal ini menunjukkan bahwa pangan Indonesia tetap kuat di saat masa sulit sekalipun. Oleh karena itu perlu kita membuka diri apresiasi kerja keras pahlawan pangan," katanya.

Kuntoro juga menegaskan Kementan terus berkomitmen guna mengejar kinerja sektor pertanian pada kuartal III dan IV 2020 agar tetap dapat berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Sejumlah strategi pun telah disiapkan di antaranya perluasan akses pasar melalui pengembangan toko tani dan usaha kemitraan, pembangunan buffer stock pangan utama di daerah, substitusi makanan pokok dengan pangan lokal, antisipasi kekeringan, peningkatan kelancaran distribusi pangan, penguatan ekspor, penguatan daerah-daerah defisit dan tanaman pekarangan dan hortikultura, serta pembuatan lumbung pangan mulai dari tingkat desa hingga provinsi.

"Dengan demikian, meskipun di masa pandemi COVID-19, Kementan tetap berkomitmen untuk menjalankan program dan kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan petani dan penyelamatan ekonomi nasional," pungkasnya.



Simak Video "Ekspresi Jengkel Jokowi soal Subsidi Pupuk yang Besar Tak Buahkan Hasil"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)