Sri Mulyani Bicara Daya Tahan Ekonomi RI Terhadap Resesi

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 28 Agu 2020 12:10 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan perekonomian Indonesia memiliki daya tahan cukup kuat terhadap potensi resesi dibanding negara-negara lain yang sudah masuk jurang resesi.

Sri Mulyani mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi terkontraksi minus 5,32% di kuartal II-2020 atau terendah sejak 10 tahun lalu. Kontraksi yang di negara-negara lain lebih dalam dari dibandingkan Indonesia.

"Kalau dilihat daya tahan, kontraksi kita tidak sedalam negara lain, masih cukup resilience dibanding negara lain," katanya dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Jumat (28/8/2020).

Dia menyebut, kontraksi yang dialami negara-negara tetangga seperti Malaysia di sekitar 17%, Singapura sekitar 12%, sementara Spanyol bisa mencapai sekitar 22%.

"Artinya semua negara terpukul dari konsumsi karena mereka tidak melakukan aktivitas, stay at home, kedua investasi, manufaktur PMI merosot namun kemudian recover," jelasnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengungkapkan pemerintah akan menahan pelemahan ekonomi melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Program ini menyasar banyak klaster mulai dari kesehatan, perlindungan sosial, bantuan dunia usaha, hingga pemerintah daerah (pemda).

Khusus di perlindungan sosial, Sri Mulyani mengungkapkan pemerintah sudah menyasar 29 juta masyarakat atau 40% kelompok miskin melalui berbagai program bantuan sosial. Tujuannya agar daya beli kelompok ini tetap terjaga dan berdampak pada perekonomian nasional.

"Jadi kalau dari resources APBN 2020, sudah banyak untuk dorong konsumsi dan investasi, instrumen kita gunakan semua, dari insentif pajak, belanja tambahan, sampai penempatan dana. Kita berharap daya tahan Indonesia cukup tetap terjaga walaupun tekanan tetap ada karena COVID-nya masih ada," ungkapnya.

Perlu diketahui, pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional berada di kisaran minus 1,1% hingga positif 0,2% di sepanjang tahun 2020. Sementara untuk kuartal III-2020, Kementerian Keuangan memprediksi di kisaran minus 2% hingga 0%.



Simak Video "Sri Mulyani: Rupiah Cenderung Stabil-IHSG Tembus 6.000 "
[Gambas:Video 20detik]
(hek/eds)