Business Matching, Pengusaha Kopi NTB Berpeluang Tingkatkan Ekspor

Faidah Umu Sofuroh - detikFinance
Jumat, 28 Agu 2020 18:42 WIB
Kementan
Foto: dok Kementan
Jakarta -

Di tengah pandemi COVID-19, kopi Provinsi Nusa Tenggara Barat berpeluang untuk meningkatkan akses pasar dan ekspor. Hal ini terbukti dengan diadakannya acara Business Matching antara pelaku usaha/eksportir kopi dengan kelompok tani kopi Provinsi NTB pada 25-26 Agustus di Senggigi, Kabupaten Lombok Barat.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB Husnul Fauzi menyambut baik pelaksanaan Business Matching ini. Menurutnya, hal ini bisa menjadi momentum penguatan pasar kopi di Provinsi NTB. Walaupun saat ini terkendala akses pasar, lanjutnya, ke depan melalui kegiatan ini diharapkan ekspor kopi NTB bisa meningkat signifikan.

"Potensi perkebunan NTB selain kopi juga ada jambu mete, kakao, kelapa, vanili dan rempah-rempah perlu terus digali pengembangan hulu hilir dan ekspor. Kami jajaran Dinas Pertanian dan Perkebunan terus berada di depan bersama Ditjen Perkebunan dalam mendukung akselerasi peningkatan ekspor komoditas perkebunan, utamanya kopi," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (28/8/2020).

Acara ini dihadiri oleh dua pelaku usaha/eksportir kopi dan rempah-rempah yang sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun menjalankan bisnis ekspor di luar negeri terutama di pasar Eropa. Direktur Utama PT Madalle Diandra Raunch mengharapkan petani kopi di NTB dapat mempertahankan kualitas kopi untuk memenuhi selera pasar.

"Langkah awal adalah pengiriman sampel ke beberapa buyer di Eropa, mudah-mudahan ada hasil yang baik untuk peluang ke depan," ucapnya.

Hal senada juga diungkap Direktur Utama PT Alam Sari Interbuana Sigit Ismaryanto. Ia berkata potensi kopi di NTB ini cukup besar, tinggal mencari cara untuk melakukan branding yang baik dari produk kopi tingkat petani.

"Selain kopi, saya melihat kakao dan cengkeh NTB cukup potensial ke depan, untuk itu kami sebagai pelaku usaha terus berkomunikasi untuk menemukenali peluang akses pasar ekspor ke depan," ujarnya.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dedi Junaedi menyatakan di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang defisit 5,32%, sub sektor perkebunan tumbuh positif dan menjadi jaminan pemulihan ekonomi nasional dari sektor pertanian. Tercatat PDB sektor pertanian tumbuh 16,24% pada triwulan II 2020, khusus komoditas kopi, ekspor Indonesia ke dunia meningkat 12% dari sisi volume ekspor jika dibandingkan periode yang sama 2019.

"Ini menjadi angin segar bagi pengembangan komoditas perkebunan Indonesia terutama di NTB. Saya harapkan ke depan komitmen bersama antara Distanbun NTB, Ditjen Perkebunan dan para pelaku usaha dalam mengakselerasi peningkatan ekspor komoditas kopi," katanya.

Pada kegiatan business matching ini juga dihadiri oleh Direktur Perdagangan, Komoditas, dan Kekayaan Intelektual, Kementerian Luar Negeri Hari Prabowo melalui saluran video conference. Ia menyatakan akan mendorong kerja sama ekonomi melalui diplomasi untuk peningkatan akses pasar kopi NTB.

Selain itu, Kepala Seksi Bahan Tanaman Penyegar, Kementerian Perdagangan Abdul Rojak juga mengatakan akan terus mendorong akses pasar kopi Indonesia terutama melalui promosi dan penyederhanaan prosedur-prosedur ekspor.

Sampel kopi NTB yang akan dibawa ke Jakarta dan dikirimkan kepada buyer di Eropa dan negara lain berasal dari 12 kelompok tani (Poktan) yaitu Poktan Kaki Rinjani, Tumpang Sari I dan II, Gorok Sokong, Mangun Jaya, Kemang Arabika, Lembah Rinjani, Bunga Mekar, Orong Tereng, King Coffee, Kopi Samba, dan Mentari.

Direktur Jenderal Perkebunan Kasdi Subagyono menyatakan apresiasi kepada Distanbun NTB atas pelaksanaan business matching ini. Menurutnya, acara ini akan mendorong peningkatan ekspor komoditas perkebunan Indonesia utamanya produk kopi dalam rangka akselerasi program Gratieks yaitu gerakan 3x lipat ekspor hingga 2024.

Ditjen Perkebunan terus memfasilitasi petani untuk memberikan bantuan sarana alat pascapanen dan pengolahan untuk menghasilkan produk-produk kopi bernilai tambah tinggi, juga dalam hal pembinaan dan pendampingan petani.

"Saat ini hanya tercatat Kopi Robusta Tambora di 2017 yang memperoleh sertifikat Indikasi Geografis, kami mendorong penetapan kopi-kopi di NTB lain yang memiliki kekhasan dari sisi geografis yang dihasilkan melalui perbedaan rasa dan aroma," tandasnya.

Pengakuan indikasi geografis pada suatu produk diyakini akan membawa banyak dampak positif, terutama dari segi aspek perekonomian dan sosial antara lain mampu menghasilkan produk berdaya saing dan pada akhirnya mendongkrak nilai jual suatu produk secara signifikan.



Simak Video "Kemenkes Sebut Ganja Masih Golongan Narkotika 1"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/hns)