Mundurnya Perdana Menteri Shinzo Abe dan Nasib Ekonomi Jepang

Trio Hamdani - detikFinance
Sabtu, 29 Agu 2020 05:30 WIB
Japans Prime Minister Shinzo Abe attends the opening session of the 20th ASEAN-JAPAN Summit in Manila, Philippines November 13, 2017. REUTERS/Athit Perawongmetha
Shinzo Abe/Foto: REUTERS/Athit Perawongmetha
Jakarta -

Sektor finansial Jepang terkena sentimen atas kabar pengunduran diri Shinzo Abe sebagai Perdana Menteri (PM) Jepang. Pasar saham Jepang rontok pasca kabar tersebut.

Mengutip Financial Times, Jumat (28/8/2020), Indeks Topix Tokyo membalikkan keadaan setelah mengalami kenaikan lebih dari 1% menjadi turun sebanyak 1,5% dalam perdagangan Jumat sore waktu setempat.

Hal tersebut merupakan respons pelaku pasar saham setelah media Jepang mengatakan Abe berencana mundur karena kesehatannya yang memburuk.

Prospek pengunduran diri Abe telah memicu kekhawatiran di kalangan investor bahwa program kebijakan moneter dan fiskal khasnya, Abenomics akan berakhir ketika dirinya tak lagi menjabat sebagai PM.

"Ini mungkin bukan hal yang baik sama sekali. Kita bisa mendapatkan orang-orang yang bertanggung jawab sepenuhnya," kata Nicholas Smith, ahli strategi ekuitas Jepang di CLSA.

Dia menambahkan bahwa pasar kemungkinan akan bereaksi buruk terhadap kembalinya ke politik Jepang yang disebut 'revolving door', dalam dua dekade sebelum Abe mengambilalih kekuasaan pada akhir 2012.

Nilai mata uang Jepang, yen menguat setelah kabar Abe akan mengundurkan diri karena masalah kesehatan. Mengutip Bloomberg, Jumat (28/8/2020), mata uang Negeri Sakura naik 0,4% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi 106,11/US$.

"Abenomics mungkin memiliki pandangan yang berbeda, tetapi fakta bahwa mereka mengajukan kebijakan yang jelas untuk keluar dari deflasi adalah hal yang positif untuk pasar ekuitas," kata Hiroshi Matsumoto, kepala investasi Jepang di Pictet Asset Management.

"Ini bukan akhir dunia bagi ekonomi Jepang, tetapi kami tidak dapat melihat dengan jelas siapa penerusnya. Dan ada pertanyaan tentang seberapa jauh kebijakan Abenomics akan diterapkan," lanjutnya.
Namun, jika Abe digantikan oleh Suga atau mantan menteri luar negeri Fumio Kishida, kebijakannya menurut para analis akan berlanjut.

Masahiro Ichikawa, ahli strategi senior di Sumitomo Mitsui DS Asset Management Co. di Tokyo mengatakan menguatnya yen mengejutkan pelaku pasar karena tidak diperkirakan terjadi hari ini.

"Yen bisa memperpanjang kenaikan ketika lebih banyak pemain luar negeri memasuki pasar. Tetapi kemajuan akan terbatas karena pasar mengharapkan kebijakan stimulus fiskal dan moneter Jepang saat ini akan dipertahankan di tengah krisis virus Corona tidak peduli siapa yang berhasil setelah Abe," lanjut dia.

Namun kebijakan Abe diperkirakan akan berlanjut. Simak di halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Diduga Korupsi, Eks Menteri Kehakiman Jepang dan Istrinya Ditangkap"
[Gambas:Video 20detik]