Lagi Pandemi, Warren Buffett Borong 5 Saham Perusahaan Jepang

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 31 Agu 2020 10:10 WIB
Warren Buffett tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan US$ 84 miliar atau Rp 1.232 triliun. Meski kaya raya, gaya hidupnya sederhana.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Warren Buffett bukan Konglomerat kaleng-kaleng. Di tengah pandemi saat ini, perusahaannya Berkshire Hathaway Inc mengumumkan telah mengakuisisi saham di lima perusahaan perdagangan terkemuka di Jepang, masing-masing lebih dari 5%.

Dilansir CNBC, Senin (31/8/2020), perusahaan tersebut adalah Itochu Corp., Marubeni Corp., Mitsubishi Corp., Mitsui & Co., dan Sumitomo Corp. Hal itu diumumkan saat Buffett genap berusia 90 tahun pada Minggu (30/8) kemarin.

Pimpinan dan CEO Berkshire mengatakan pihaknya mengakuisisi kepemilikan selama periode sekitar 12 bulan melalui pembelian reguler di Bursa Efek Tokyo. Berdasarkan harga penutupan hari Jumat (28/8) untuk rumah perdagangan, 5% saham masing-masing bernilai sekitar US$ 6,25 miliar atau Rp 90,6 triliun (kurs Rp 14.500/US$).

Bagi Buffett, langkah tersebut bukanlah permainan perdagangan yang cepat. Berkshire ingin menahan investasi jangka panjang dan dapat meningkatkan kepemilikannya di salah satu perusahaan hingga maksimum 9,9%, tergantung pada harga. Berkshire juga berjanji untuk tidak melakukan pembelian di luar 9,9% saham di salah satu perusahaan, kecuali diberikan persetujuan oleh dewan direksi perusahaan perdagangan.

Dalam menjelaskan niatnya untuk investasi di rumah perdagangan, Berkshire menunjuk pada sejarah kepemilikan pasif jangka panjangnya di perusahaan seperti Coca-Cola Co., American Express Co., dan Moody's Corp., yang masing-masing berlangsung selama beberapa dekade.

"Saya senang Berkshire Hathaway berpartisipasi di masa depan Jepang dan lima perusahaan yang telah kami pilih untuk investasi. Saya berharap ke depan ada peluang yang saling menguntungkan," kata Buffett.

Meskipun bertaruh besar dalam mata uang yen, Berkshire mengatakan akan memiliki sedikit eksposur terhadap fluktuasi mata uang karena memegang 625,5 miliar obligasi dalam mata uang yen (US$ 5,93 miliar) yang akan jatuh tempo pada berbagai tanggal dari 2023 hingga 2060.

Sebagai informasi, perusahaan perdagangan Jepang dikenal sebagai 'sogo shosha', yang mana konglomerat mengimpor segala sesuatu mulai dari energi, makanan, hingga tekstil ke Jepang yang kekurangan sumber daya dan memberikan layanan kepada produsen.

Rumah perdagangan telah membantu menumbuhkan ekonomi Jepang dan berkontribusi pada globalisasi bisnis di sana. Namun karena mereka telah memperluas jejak ke luar negeri, mereka menjadi lebih rentan terhadap kesulitan global seperti krisis keuangan satu dekade lalu. Rumah perdagangan juga menghadapi persaingan yang meningkat dari pemodal ventura dan dana ekuitas swasta.



Simak Video "Perdana di Lantai Bursa, Miniso Cuan Hampir 9 Triliun Rupiah!"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)