Bioskop Batal Buka, Biaya Listrik Jalan Terus

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 10 Sep 2020 20:30 WIB
protokol kesehatan di bioskop
Foto: dok. kemenparekraf
Jakarta -

Pengelola bioskop mengaku pasrah dengan situasi saat ini. Lantaran, sudah berbulan-bulan bisnisnya tidak bisa beroperasi akibat adanya pandemi COVID-19. Kini, bioskop terancam tutup lebih lama lagi menyusul PSBB yang kembali diberlakukan per 14 September nanti.

"Yaudah mau diapain, apa yang ada aja kita lakukan," ujar Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin kepada detikcom, Kamis (10/9/2020).

Djonny mengaku selama ditutup, bisnisnya tidak lagi mendapatkan omzet sepeser pun. Malahan, terus mengalami kerugian karena ada biaya operasional yang wajib dibayarkan tiap bulannya. Salah satunya adalah biaya listrik dan perawatan objek-objek di bioskop.

"Pengeluaran terbesar itu adalah listrik, kalau diputus nanti masukinnya mahal lagi bisa Rp 400 juta. Listrik kalau tidak dipakai itu Rp 10-15 juta ada, tapi kita pakai juga untuk hidupin AC, proyektor itu Rp 30-35 jutaan ada itu sebulan," ungkapnya.

Bila ditotal bersama biaya operasional lainnya seperti perawatan objek-objek di bioskop dan gaji karyawan bisa mencapai Rp 70 juta per bulan. Itu pun hanya berlaku bagi bioskop independen.

"Minimal total itu Rp 60 juta- Rp 70 juta sebulan pasti itu. Itu bioskop yang biasa loh, yang independen, bagaimana yang di group," tambahnya.

Meski tak beroperasi, pihaknya tetap mempekerjakan sebagian karyawannya. Terutama untuk merawat objek-objek di bioskop agar tetap terawat dan bebas jamur.

"Masih ada karyawan lah, 30% itu masih digaji. Kira-kira sepertiga, paling banyak itu dari cleaning service itu rutin tiap hari bersihin tempat duduk kalau nggak berjamur. Terus AC, proyektor juga harus dihidupin juga itu kan perlu tenaga kerja juga," pungkasnya.



Simak Video "Prediksi Horor Jika DKI Tak Kembali PSBB"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)