Jauh Sebelum Corona, Wabah Ini Juga Pernah Porak-Porandakan Ekonomi Dunia

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Minggu, 13 Sep 2020 09:30 WIB
Virus corona dan pandemi flu Spanyol: Wabah pada 1918 menewaskan 50 juta orang, bagaimana perubahan dunia saat itu dan apa yang dapat dipelajari sekarang?
Foto: BBC World
Jakarta -

Ekonomi global di tahun 2020 gonjang ganjing akibat virus bernama Corona atau COVID-19. Virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China ini memang menekan perekonomian di seluruh dunia.

Penyebabnya karena untuk menekan penyebaran virus, sebuah wilayah harus dibatasi skala besar bahkan harus lockdown.

Hal ini menyebabkan ekonomi di seluruh dunia tertekan, konsumsi masyarakat menurun, produksi terdampak dan ekonomi di berbagai negara mengalami resesi. Termasuk Indonesia.

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengungkapkan tekanan ekonomi yang terjadi akibat pandemi atau wabah ini merupakan hal yang wajar.

"Ini terjadi di semua negara, resesi bukan berarti kinerja pemerintah itu buruk. Memang seluruh dunia mengalami," kata Piter.

Pandemi memang bukan terjadi kali ini saja. Di masa lalu pandemi juga pernah menghantam ekonomi global hingga berdarah-darah.

Pada Juni 1348 Eropa dihantam Black Death yang menelan korban jiwa. Mengutip bbc.com gejala Black Death ini lebih menyeramkan dibanding COVID-19 karena muncul benjolan hitam yang tumbuh di ketiak dan selangkangan selanjutnya demam tinggi dan menyebabkan kematian.

Black Death juga menyebabkan kerusakan ekonomi meskipun tidak terlalu lama. Hal ini karena banyak dunia usaha yang mengalami kekurangan tenaga kerja.

Wabah ini juga menciptakan wirausahawan baru dan juga menyebabkan kerugian untuk perusahaan besar di Eropa.

Kemudian mengutip riset libertystreeteconomics.newyorkfed.org ada pandemi flu Spanyol yang memporak-porandakan ekonomi global. Pandemi yang berlangsung dari Januari 1918 ini baru selesai pada Desember 1920.

Saat itu diperkirakan 500 juta orang atau sepertiga populasi manusia di dunia terinfeksi dan tercatat ada 50 juta kematian di seluruh dunia.

Pandemi itu juga menjalankan kebijakan yang mirip dengan menekan penyebaran COVID-19 ini dengan menutup sekolah, teater, gereja, melarang pertemuan, pemakaman, pembatasan jam kerja hingga karantina pasien yang terinfeksi.

Riset juga menyebutkan untuk kota-kota yang sejak awal menetapkan pembatasan ketat dapat memulihkan perekonomian secara cepat. Namun memang pandemi ini menelan biaya ekonomi yang besar untuk menuju perbaikan.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Genjot Ekonomi RI, Satgas PEN Gelontorkan Rp 137 T"
[Gambas:Video 20detik]