PLN Akan Penuhi Waiting List Listrik Industri
Kamis, 12 Jan 2006 14:54 WIB
Jakarta -
Perusahaan Listrik Negara (PLN) berharap dengan pertumbuhan listrik 6 persen pada tahun ini, perseroan bisa memasok listrik sektor industri yang masuk waiting list.Pasalnya, pada tahun ini, PLN akan menerima tambahan pasokan listrik dari wilayah Jawa sebesar 2.600 mega watt (MW). Tambahan tersebut berasal dari pembangkit di Cilacap, Tanjung Jati B dan Cilegon."Banyak sekali calon pelanggan dari sektor industri yang masuk waiting list, kami berharap dengan penambahan pasokan listrik hal itu akan dapat terpenuhi," kata Direktur Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN, Sunggu Aritonang.Hal itu diungkapkan Sunggu, usai acara peluncuran buku Directory IndoGreenBook, di Riverside Golf, Cimanggis, Kamis (12/1/2006). IndoGreenBook adalah sebuah direktori penduan berisi tentang data-data dan informasi perusahaan dimana datanya diambil dari data yang dimiliki oleh PLN. Dengan data ini, masyarakat dapat mengakses nama, alamat dan nomor telepon perusahaan yang diminatinya. PLN berharap, calon pelanggan industri baru nanti bisa menggunakan listrik bukan pada waktu beban puncak."Memang ada industri yang beroperasi 24 jam, tapi sebenarnya mereka tidak penuh beroperasi 24 jam, kita berharap mereka dapat menggunakan listrik bukan pada saat peak time. Mereka bisa menggunakan waktu di luar beban puncak," kata Sunggu.Menurut Sunggu, saat ini, cukup banyak pelanggan yang masuk waiting list, seiring dengan naiknya harga BBM. Kalangan industri banyak yang tidak lagi menggunakan pembangkitnya dan memilih memakai listrik PLN.LossesSunggu juga mengatakan, hingga saat ini PLN masih kesulitan mengurangi losses listrik. Losses listrik yang sebesar 11,45 persen baru bisa dikurangi PLN menjadi 10,84 persen.Investasi untuk pengurangan losses>, menurut Sunggu, harus dialihkan agar listrik tetap menyala. Caranya dengan mengoptimalkan pembangkit-pembangkit yang menggunakan BBM. Artinya, investasi untuk losses digunakan untuk menambah biaya BBM yang semakin tinggi. PLN menargetkan losses tahun 2006 dibawah 2 digit. "Mudah-mudahan kita bisa kurangi losses menjadi 9,84 persen sesuai RKAP (rencana kerja dan anggaran perusahaan)," tutur Sunggu.
(ir/)










































