Tenggelam dalam Resesi, Kapan Ekonomi Inggris Bangkit Lagi?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 18 Sep 2020 10:53 WIB
The union flag flies over the Houses of Parliament in Westminster, in central London, Britain June 24, 2016.     REUTERS/Phil Noble
Foto: REUTERS/Phil Noble
Jakarta -

Bank of England dalam laporannya menyebut jika pandemi COVID-19 dapat mengganggu hubungan dagang Inggris dengan Uni Eropa hingga mengancam pemulihan ekonomi.

Akibat pandemi ini membuat perekonomian dunia terseok-seok. Inggris mengalami resesi dan penyebaran Corona masih tetap tinggi sejak pertengahan Mei lalu.

Sebelumnya Bank of England juga telah menahan suku bunga 0,1%, ini merupakan yang terendah dalam sejarah. Bank sentral Inggris juga tetap mendukung pemulihan ekonomi dengan kebijakan moneter namun tidak melanjutkan program pembelian obligasi atau menurunkan suku bunga acuan.

Komite Kebijakan Moneter (MPC) Inggris menyebutkan pemulihan ekonomi ini sangat bergantung pada kondisi pandemi dan bagaimana cara pemerintah untuk mempertahankan kesehatan masyarakat.

"Peningkatan kasus COVID-19 ini terjadi di beberapa bagian dunia, termasuk Inggris. Hal ini berpotensi membebani ekonomi ke depan," kata MPC dikutip dari BBC, Jumat (18/9/2020).

Bank of England juga akan mempertahankan suku bunga rendah sebagai dukungan penuh untuk perekonomian. Hal ini karena ekonomi masih lemah dan masih dibayangi ketidakpastian.

Ekonom Capital Economics Andrew Wishart mengungkapkan saat ini tak ada tanda-tanda jika Bank of England akan menaikkan suku bunga hingga inflasi kembali ke target 2%.

"Kami harap suku bunga acuan ini tidak lebih tinggi dari 0,1% untuk lima tahun ke depan," ujar Andrew.

(kil/ara)