Erick Thohir: Jangan Pikir dengan Vaksin Protokol COVID-19 Dilupakan

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 22 Sep 2020 16:41 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir
Foto: Menteri BUMN Erick Thohir (Achmad Dwi Afriyadi/detikcom)
Jakarta -

Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan meski kandidat-kandidat vaksin virus Corona (COVID-19) sedang diproduksi dan sudah menunjukkan perkembangan yang sangat baik, namun protokol COVID-19 tak boleh dilupakan.

"Sebagai catatan, jangan berpikir dengan vaksin ini protokol COVID-19 bisa dilupakan," tegas Erick dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Selasa (22/9/2020).

Pasalnya, proses vaksinasi diprediksi memakan waktu 6 bulan sampai 2 tahun di Indonesia yang punya ratusan juta penduduk. Dalam proses vaksinasi, masyarakat harus tetap melaksanakan protokol kesehatan.

"Sebagai catatan, jangan berpikir dengan vaksin ini protokol COVID-19 bisa dilupakan. Karena kita ketahui vaksin untuk COVID-19 ini berjalan 6 bulan sampai 2 tahun. Jadi nanti kemungkinan divaksin lagi," kata Erick.

Selain itu, satu orang butuh beberapa kali penyuntikan vaksin hingga dosisnya berkhasiat efektif. Erick menegaskan produksi vaksin merah putih akan terus berjalan, meski saat ini pemerintah sudah menyiapkan 30 juta vaksin impor dari China dan Uni Emirat Arab (UEA).

"Karena itulah vaksin merah putih sangat penting," ujarnya.

Ia menargetkan, vaksin merah putih buatan dalam negeri ini bisa mulai diproduksi pada 2022.

"Karena itu vaksin merah putih tetap terjadi, karena itu kita sedang mempercepat bagaimana uji klinis 1,2,3 di tahun depan, sehingga tahun 2022 vaksin merah putih bisa diproduksi dalam negeri," imbuh Erick.

Selain vaksin, Erick juga menyebutkan saat ini Indonesia sudah mulai memproduksi obat avigan jenis favipiravir untuk penyembuhan virus Corona.

"Bio Farma bisa punya produksi untuk paracetamol, yang selama ini impor-impor obat itu 90% didominasi oleh asing. Tetapi sekarang kita sudah bisa memproduksi paracetamol sendiri dan itu menjadi harapan tahun depan bisa terjadi pabriknya. Nilainya sendiri seperti yang sudah disampaikan bagaimana bahan obat yang diperlukan pada COVID-19 ini seperti favipiravir yang dulu ngetopnya avigan, sekarang kita bisa produksi sendiri," ucap dia.

Ia memastikan, harga obat ini sangat terjangkau bagi masyarakat. "Kalau avigan kita pastikan lebih murah, tetapi yang oseltamivir dan radimsir karena ini impor, kita belum bisa sendiri tentu harganya sesuai pasar. Kalau yang avigan tentu favipiravir sudah bisa lebih murah, kurang lebih Rp 20.000-an," tutup dia.

(ara/ara)