Sri Mulyani Pastikan RI Resesi, Ekonom: Masyarakat Jangan Panik

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 22 Sep 2020 20:30 WIB
Poster
Ilustrasi/Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan ekonomi nasional resesi pada kuartal III-2020. Hal itu disampaikan setelah Kementerian Keuangan merevisi perkiraan angka pertumbuhan ekonomi tahun ini dari minus 1,1% hingga positif 0,2% menjadi minus 1,7% sampai minus 0,6%.

"Kemenkeu lakukan revisi forecast, sebelumnya untuk tahun ini minus 1,1% hingga positif 0,2%, yang terbaru minus 1,7% sampai minus 0,6%. Ini artinya negatif teritory terjadi pada kuartal III dan kemungkinan masih berlangsung pada kuartal IV yang kita berusaha mendekati nol atau positif," ujar Sri dalam konferensi pers virtual APBN KiTA, Selasa (22/9/2020).

Mengingat resesi sudah pasti akan datang, apa yang harus dilakukan masyarakat menghadapi masa resesi tersebut?

Menurut Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet hal terpenting yang harus dilakukan masyarakat adalah tetap tenang menghadapi situasi tersebut. Sebab, bila khawatir berlebihan malah akan memperparah dampak resesi yang muncul nanti.

"Masyarakat jangan panik dalam menghadapi resesi, kepanikan dari masyarakat justru bisa memperburuk kondisi dalam resesi," ujar Yusuf kepada detikcom, Selasa (22/9/2020).

Namun, di samping itu, masyarakat perlu mengurangi kegiatan konsumsi yang berlebihan. Tujuannya untuk jaga-jaga bila resesi berlanjut hingga akhir tahun.

"Resesi menjadi tidak terhindarkan di tengah kasus COVID-19. Untuk itu, kurangi kegiatan konsumsi yang tidak diperlukan sebagai bentuk persiapan jika resesi berlanjut," tambahnya.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah menghidupkan kembali kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal masing-masing untuk saling bantu bila ada warga yang kesulitan di tengah pandemi.

"Aktifkan organisasi atau kegiatan sosial masyarakat di lingkup terkecil seperti RT dan RW fungsinya untuk menjadi garda pertama jika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan di tengah resesi," imbaunya.

Hal serupa diungkapkan oleh Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira. Masyarakat wajib punya dana darurat untuk jaga-jaga bila terkena PHK maupun untuk pegangan biaya berobat bila tiba-tiba jatuh sakit.

"Persiapkan dana darurat untuk antisipasi hilangnya pendapatan bahkan pekerjaan karena resesi artinya perusahaan di hampir seluruh sektor akan lakukan efisiensi karyawan. Dana darurat juga berkaitan dengan dana kesehatan apabila mendadak sakit di tengah situasi pandemi COVID-19," kata Bhima.

Masyarakat juga diminta mengurangi belanja yang tidak penting agar uangnya bisa disimpan jadi dana darurat tadi.

"Menunda membeli barang yang sifatnya sekunder seperti kendaraan baru, fashion dan aksesoris yang belum sesuai kebutuhan," imbuhnya.

Terakhir menumbuhkan kembali jiwa tolong-menolong antar warga dengan membeli produk sehari-hari dari tetangga, teman atau orang terdekat terlebih dahulu dibanding produk impor.

"Masyarakat disarankan untuk saling bersolidaritas atau saling bantu untuk meringankan beban sesama. Bentuknya bisa membeli produk dari teman atau komunitas sekitar dibanding membeli barang impor. Ini hal termudah yang bisa dilakukan," tangkasnya.



Simak Video "Sri Mulyani Pastikan Ekonomi Q3 RI Negatif"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)