Ini Omongan Lengkap Sri Mulyani Soal RI Resesi Kuartal III

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2020 10:56 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kemarin merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020. Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers APBN KiTa secara virtual, Selasa (22/9/2020).

Menurutnya, pada kuartal III-2020, perekonomian Indonesia kemungkinan akan minus 2,9% hingga minus 1,1%. Bahkan, pertumbuhan minus ini diramal berlanjut ke kuartal IV-2020 nanti. Dengan kondisi ini, tidak menutup kemungkinan, Indonesia bakal masuk jurang resesi.

Selanjutnya, Sri Mulyani juga berbicara soal soal kondisi ekonomi RI selama ini sebelum dan sesudah diserang COVID-19 hingga proyeksinya sampai akhir tahun nanti. Berikut penyataan lengkapnya:

Konteks mengenai COVID-19, karena dia pengaruhi elemen masyarakat dan perekonomian kita. Di seluruh dunia capai 31,2 juta dengan mortalitas 964.000. Tambahan kasus rata-rata tiap bulannya sekarang sudah meningkat di 277.000 di dalam skala dunia.

Dan ini menggambarkan bahwa perjuangan untuk menangani COVID-19 masih sangat dalam posisi yang berat di berbagai negara. Eskalasinya seluruh negara terkena dan episentrum terutama ke penduduk besar seperti AS, India, Brazil, Rusia, Afrika dan Indonesia termasuk kategori berpenduduk besar.

Banyak negara melakukan langkah-langkah mulai dari ekstrim lockdown sampai pembatasan sosial dan new normal, pembukaan kembali dengan protokol kesehatan. Namun, tiap negara memiliki masa-masa di mana jumlah kasus meningkat lagi sehingga terus penyesuaian.

Untuk vaksin, terus dilakukan upaya pengembangan sebagai salah satu penanganan COVID-19. Tentu sambil melakukan protokol kesehatan di berbagai belahan dunia.

Dengan kondisi ini, risiko sosial ekonomi keuangan masih nyata akibat COVID-19. Di Indonesia sendiri jumlah kita 248.000 kasus. Dengan tingkat kesembuhan terus meningkat, itu hal baik. Namun, kalau kita lihat dari total kematian tetap harus diwaspadai untuk diturunkan.

Lokasi, Jakarta kembali jadi episentrum terbesar dalam jumlah kasus. Dan kalau kita lihat, tentu positivity rate meningkat cukup tajam dan ini menimbulkan langkah-langkah untuk tetap menjaga agar penyebaran COVID-19 bisa dikendalikan dan kurvanya melandai karena ini sangat berhubungan dengan ketahanan sektor kesehatan kita yakni fasilitas-fasilitas kesehatan dan tentu juga dari tenaga medis.

Beberapa provinsi besar tunjukkan eskalasi dari kasus COVID-19. Provinsi ini tidak hanya besar dari jumlah penduduk, juga kontribusi ke perekonomian, sehingga dia pasti pengaruhi kinerja perekonomian.

DKI Jakarta dengan eskalasi jumlah yang tertinggi sekarang kemudian diikuti provinsi lain seperti Jabar, Jatim, Jateng dan Provinsi lain.

Dengan kondisi COVID-19 yang masih jadi faktor utama pengaruhi ekonomi, maka pertumbuhan ekonomi baik di level global dan nasional kita masih sangat ditentukan oleh kemampuan untuk mengendalikan COVID-19.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Gelagat Resesi dari Sri Mulyani"
[Gambas:Video 20detik]