Pengertian Depresi Ekonomi, Apa Bedanya dengan Resesi?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2020 12:31 WIB
Pandemi Corona membuat sejumlah negara masuk jurang resesi. Indonesia termasuk yang diprediksi menyusul negara-negara tetangga seperti, Singapura Malaysia hingga Thailand.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Indonesia sudah dipastikan mengalami resesi atau mengalami kontraksi pada ekonominya selama dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal II-2020, ekonomi Indonesia sudah mengalami kontraksi 5,32%. Lalu, di kuartal III-2020 Kementerian Keuangan mengeluarkan proyeksi minus 1% hingga minus 2,9%.

Ancaman selanjutnya dari resesi adalah depresi. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menjelaskan, jika suatu negara mengalami kontraksi pada pertumbuhan ekonominya yang berkepanjangan dan semakin dalam, maka negara itu sudah jatuh ke depresi.

"Kalau dia sampai dua kuartal berturut-turut, misalnya year on year dia negatif, dia masuk resesi. Nah tapi kalau berkepanjangan, sampai bertahun-tahun kontraksinya, itu yang disebut depresi," jelas Faisal kepada detikcom, Rabu (23/9/2020).

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menerangkan, tanda-tanda dari depresi ialah tren pertumbuhan ekonomi yang terus menurun. Jika setelah resesi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kontraksi, dan minusnya semakin besar, maka baru disebut depresi.

"Pertama kan resesi dulu, jadi pengertian negara lain itu tidak harus negatif, tetapi dia dalam posisi pertama dia positif, tapi kuartal kedua dia turun, masih positif tapi pertumbuhannya masih rendah. Nah di kuartal ketiga turun lagi, bahkan negatif. Nah berarti kan yang dilihat trennya yang turun dua kuartal berturut-turut. Ini yang terjadi di kita kemungkinannya adalah memang kalau sekarang sudah resesi dari kuartal pertama, kedua, dan ketiga. Itu yang saya kira jauh lebih clear dari pemikiran itu," papar Tauhid ketika dihubungi detikcom secara terpisah.

Kembali ke Faisal. dampak nyata depresi ialah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, yang berujung pada peningkatan angka pengangguran.

"Kalau depresi, kalau bertahun-tahun tidak pulih, ya berarti karena dia semakin panjang masa kontraksinya itu berarti dia semakin luas dampak negatifnya. Misalnya penurunan penjualan, penurunan keuntungan, makin banyak yang menganggur, yang miskin. Jadi makin bertambah waktu, makin banyak. Karena satu per satu yang mungkin tadinya jangka pendek dia bertahan, tapi dalam jangka panjang tidak bisa bertahan," urai Faisal.

Namun, kedua ekonom Tanah Air itu sepakat tanda-tanda depresi belum terlihat di Indonesia. Tauhid sendiri mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap akan menunjukkan tren membaik, meski masih dalam area negatif.

"Ya nggak, itu ada arus balik. Kalau dia naik, kalau sampai menuju 0 saja nggak disebut nol itu. Depresi itu ketika kontraksinya mendalam terutama di kuartal IV-2020 nanti," tegas dia.

Faisal menambahkan, depresi itu akan terjadi ketika pertumbuhan ekonomi suatu negara mengalami kontraksi lebih dari satu tahun. Namun, di Indonesia sendiri kemungkinan besar trennya akan terus membaik, bukan semakin mendalam.

"Enggak sih kalau depresi. Kalau depresi berarti kalau sudah bertahun-tahun. Kalau nanti kuartal IV-2020 kalaupun kontraksi kan berarti baru 3 kuartal. Berarti kan belum. Apalagi melihat trennya. Kalau kami prediksi trennya itu walaupun ada potensi kontraksi, tapi saya rasa yang terdalam sudah kita lewati, di kuartal II-2020. Jadi kuartal III-2020 membaik, trennya di kuartal IV-2020 juga akan lebih baik, walaupun masih ada potensi negatif lagi," tutup Faisal.

(fdl/fdl)