Trump Sebut Ekonomi AS Booming, Seriusan?

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 28 Sep 2020 09:15 WIB
Covid-19: Donald Trump sengaja meremehkan virus corona padahal tahu sejak awal virus itu mematikan, sebut buku karya wartawan senior
Foto: BBC World
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membanggakan pemulihan cepat atas ekonomi AS sebagai bukti keberhasilan pemerintahannya. Dia tidak salah, tapi itu bukan gambaran lengkapnya.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell menghabiskan sepanjang minggu lalu untuk melihat tentang pemulihan ekonomi. Pesan utama darinya adalah "Ini adalah kisah tentang dua ekonomi, dan yang satu terlihat jauh lebih kuat dari yang lain".

Di atas kertas, ekonomi AS memang menderu kembali lebih kuat dari Powell dan banyak prediksi ekonom. Pandemi telah membuat lebih dari 22 juta lapangan pekerjaan hilang. Tapi 10,6 juta lapangan pekerjaan telah dibuka kembali.

Produk domestik bruto (PDB) AS, sebagai gambaran ekonomi AS secara luas, diperkirakan akan rebound tajam setelah jatuh cukup dalam. Pada kuartal II-2020 secara kuartalan PDB AS terkontraksi -31,7%. The Fed memprediksi PDB AS akan melonjak pada tingkat tahunan dan penyesuaian musiman 32% di kuartal III-2020.

Tapi itu hanya satu sisi cerita. Di sisi lain banyak toko yang masih tutup. Sekitar 11,5 juta orang yang menjadi pengangguran karena COVID-19 tetap tidak bekerja. Dan minggu depan, hingga 100.000 pekerjaan di industri maskapai penerbangan mungkin akan hilang setelah berakhirnya Undang-Undang CARES, yang memberikan bailout US$ 50 miliar untuk menjaga maskapai penerbangan AS tetap bertahan.

Sementara itu, aliran dana dari stimulus telah berkurang. Namun wabah COVID-19 masih ada bahkan meningkat lagi di beberapa bagian dunia.

"Risiko ke depan adalah bahwa orang-orang membelanjakan (sekarang) karena mereka memiliki uang di bank meskipun mereka menganggur," kata Powell.

Tetapi begitu uang itu habis, orang mungkin mulai mengurangi pengeluaran mereka. Saat itulah pukulan besar bagi pemulihan ekonomi mengingat pengeluaran konsumen adalah mesin terbesar ekonomi AS.

Memang penjualan ritel sebagai salah satu ukuran bagaimana perilaku belanja orang Amerika, telah bangkit kembali. Tercatat terjadi lonjakan bulanan terbesar mereka pada bulan Mei. Namun di bulan-bulan berikutnya, laju perbaikan melambat.

Kemudian, ada kemungkinan tunjangan untuk pengangguran sebesar US$ 600 akan lebih rendah. Sebab Kongres belum menyetujui kesepakatan stimulus baru. Sementara itu, Program Perlindungan Gaji untuk melewati bulan-bulan terburuk krisis dikhawatirkan dananya mengering.



Simak Video "Donald Trump Sebut Regeneron Lebih Penting dari Vaksin Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(das/zlf)