Turun Lagi! Bank Dunia Ramal Ekonomi RI Tahun Ini -2%

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 29 Sep 2020 10:43 WIB
Pandemi Corona membuat sejumlah negara masuk jurang resesi. Indonesia termasuk yang diprediksi menyusul negara-negara tetangga seperti, Singapura Malaysia hingga Thailand.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan ekonomi Indonesia pada 2020 -1,6%. Bahkan dalam skenario paling buruk, pertumbuhannya bisa kontraksi sampai -2%.

Angka itu turun dibandingkan outlook Bank Dunia pada Juli yang memperkirakan ekonomi Indonesia masih bisa bertahan di nol persen. Sementara ekonomi Indonesia bisa kembali pulih dengan pertumbuhan 4,4% pada 2021. Namun dalam skenario buruk pertumbuhannya hanya mencapai 3%.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan dinilai bergantung pada ketersediaan vaksin di tengah pandemi COVID-19.

"Berdasarkan asumsi terjadinya pemulihan dan normalisasi kegiatan secara berlanjut di negara-negara besar, dikaitkan dengan kemungkinan diproduksinya vaksin," kata Chief Economist East Asia and Pacific dari World Bank Aaditya Mattoo, dalam Laporan Ekonomi Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik edisi Oktober, Selasa (29/8/2020).

Secara keseluruhan, kawasan Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan mengalami pertumbuhan hanya 0,9% pada tahun ini. Bank Dunia mencatat, angka tersebut merupakan yang terendah sejak 1967.

China diprediksi mengalami pertumbuhan sebesar 2%. Pertumbuhan Negeri Tirai Bambu itu didorong belanja pemerintah, ekspor yang kuat, dan angka yang rendah pada kasus penularan baru sejak Maret. Namun, konsumsi domestiknya masih cenderung lambat.

Apabila mengecualikan China, negara-negara lain di kawasan Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 3,5%. Dalam skenario lebih buruk, angkanya dapat mencapai kontraksi 4,8%.

Bank Dunia menyebut prospek kawasan Asia Timur dan Pasifik lebih cerah pada tahun depan dengan pertumbuhan diharapkan mencapai 7,9% di Cina dan 5,1% di negara-negara lain di kawasan ini. Akan tetapi, output diproyeksikan tetap berada di bawah angka proyeksi sebelum pandemi selama dua tahun ke depan.

Prospek tidak baik terutama terjadi pada beberapa negara di Kepulauan Pasifik yang sangat terdampak. Output mereka diprediksi tetap berada di 10% di bawah angka sebelum krisis, selama 2021.

(fdl/fdl)