Utang Pertamina hingga PLN Bikin Keuangan BUMN Ini Minus

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 29 Sep 2020 16:32 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Direktur Utama PT Surveyor Indonesia (Persero) Dian M Noer memaparkan ada tiga BUMN yang masih memiliki tunggakan utang ke perusahaannya. Ketiga BUMN itu adalah Pertamina, PLN, dan KAI yang berutang miliaran rupiah.

Hal ini diungkapkan Dian saat menjawab pertanyaan anggota Komisi VI DPR RI Nyat Kadir soal keuangan perusahaan yang terganggu karena utang beberapa BUMN yang belum dibayar ke Surveyor Indonesia.

"Saya mau tanya ke PT Surveyor Indonesia, katanya cashflow terganggu, salah satunya adalah ada yang masih piutang. Kalau bapak nggak masalah sama rahasia perusahaan, mohon gambaran berapa besar piutang dari lembaga seperti Pertamina dan sebagainya itu," tanya Kadir di ruang rapat Komisi VI DPR RI, Selasa (29/9/2020).

Dian pun menjabarkan jumlah utang yang belum terbayar dari beberapa BUMN kepada Surveyor. Pertamina memiliki utang Rp 40 miliar, kemudian PLN Rp 10 miliar, dan KAI Rp 8 miliar.

"Terkait utang, tanpa bermaksud menyalahkan atau mau mengadu ke dewan yang terhormat, cuma karena ditanyakan kami sampaikan. Pertama untuk Pertamina masih ada piutang Rp 40 miliar ke SI (Surveyor Indonesia), PLN sudah jatuh tempo Rp 10 miliar, KAI Rp 8 miliar," ujar Dian.

Dalam paparannya, dia menyebutkan arus kas Surveyor Indonesia tercatat minus 9%. Hal itu terjadi karena banyak piutang yang belum terbayar.

"Ini terutama disampaikan kontribusi terhadap minus ini, juga karena bukan menyalahkan siapa-siapa tapi melihat fakta yang ada karena masalah piutang yang tertunda pembayarannya dari klien kami. Karena klien kami menghadapi kondisi yang sulit," kata Dian.

(ara/ara)