Pasang Surut 'Kemesraan' Dagang AS-China

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 29 Sep 2020 20:15 WIB
Tensi AS-China meninggi, Washington perintahkan tutup konsulat China di Houston
Foto: BBC World
Jakarta -

Selama ini, Amerika Serikat dan China kerap menjadi rival di panggung internasional. Baru-baru ini, misalnya, Washington melarang operasional Tiktok, We Chat dan perusahaan teknologi China lainnya di Negeri Paman Sam tersebut.

Tak mau tinggal diam, Beijing langsung membalas AS dengan mengeluarkan daftar perusahaan asing (terutama AS) yang dilarang berbisnis di negeri tirai bambu.

Namun, di sisi lainnya, hubungan keduanya justru tampak tak terpisahkan. Ada ketergantungan satu sama lain yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Berikut sejumlah fakta soal pasang surut 'mesranya' hubungan dagang AS-China.

Perdagangan AS-China

Sebagian besar hubungan antara AS dan China berpusat pada perdagangan, di mana kedua negara telah menjadi mitra dagang utama satu sama lain selama bertahun-tahun.

Hubungan itu mulai terganggu setelah pertarungan tarif meletus pada 2018 lalu ditambah hubungan perdagangan kerap tidak seimbang.

Dalam perdagangan barang dagangan, AS mengimpor jauh lebih banyak dari China, tetapi kebalikannya terlihat dalam perdagangan jasa, di mana China membeli lebih banyak dari AS daripada jumlah yang dijualnya.

Meskipun begitu, perdagangan bilateral baik barang dan jasa keduanya masih mencapai US$ 636,8 miliar.

Presiden AS Donald Trump pun masih berusaha mendorong China untuk membeli lebih banyak produk pertanian negaranya untuk menenangkan petani AS yang dipandang sebagai blok suara penting baginya dalam pemilihan presiden di bulan November mendatang.

Kedua negara juga mencoba mengatasi ketidakseimbangan perdagangan barang mereka yang besar dengan meminta China untuk menyetujui impor lebih banyak dari AS dalam apa yang disebut kesepakatan perdagangan fase satu yang ditandatangani awal tahun ini.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2