Sepertiga Masyarakat RI Diperkirakan Makan Lebih Sedikit karena Kere

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 29 Sep 2020 17:10 WIB
Akibat wabah COVID-19, resesi hampir pasti dialami Indonesia. Penurunan aktivitas ekonomi nasional ini akan berdampak pada PHK dan kemiskinan.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Bank Dunia (World Bank) memprediksi lebih dari sepertiga rumah tangga di Indonesia akan makan lebih sedikit dari biasanya. Hal itu dikarenakan kurangnya uang dari penghasilan sehingga akan membatasi makanan.

Chief Economist East Asia and Pacific dari World Bank Aaditya Mattoo mengatakan sebenarnya proporsi rumah tangga yang menghadapi kekurangan pangan telah turun antara Mei atau awal Juni. Namun lebih dari sepertiga sampai seperempat rumah tangga dilaporkan masih kekurangan makanan.

"Lebih dari sepertiga rumah tangga di Indonesia akan makan lebih sedikit. Kerawanan pangan dapat didorong oleh hilangnya pendapatannya karena COVID-19," kata Mattoo dalam Laporan Ekonomi Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik edisi Oktober, Selasa (29/8/2020).

Tidak hanya itu, World Bank juga memprediksi akan ada tambahan sebanyak 38 juta masyarakat di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang jatuh dalam kemiskinan karena pandemi ini.

"Jumlah masyarakat yang hidup dalam kemiskinan di kawasan ini diprediksi mengalami penambahan sebanyak 38 juta orang pada 2020, termasuk 33 juta orang yang seharusnya sudah dapat lepas dari kemiskinan dan 5 juta lainnya terdorong kembali ke dalam kemiskinan," tuturnya.

Untuk pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun, Bank Dunia memprediksi minus 1,6% sampai minus 2%. Padahal, pada Juli lalu, Bank Dunia memandang ekonomi Indonesia masih bisa bertahan di kisaran 0%.

"Pemulihan perekonomian, umumnya terkait dengan seberapa efisien penyakit (COVID-19) diatasi dan bagaimana negara-negara yang terpapar mengatasi guncangan eksternal," imbuh dia.

Mattoo menyebut proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dan 2021 nanti sangat bergantung pada pengendalian penyebaran COVID-19 dan percepatan ketersediaan vaksin.

"Berdasarkan asumsi terjadinya pemulihan dan normalisasi kegiatan secara berlanjut di negara-negara besar, dikaitkan dengan kemungkinan diproduksinya vaksin," tandasnya.

(fdl/fdl)