Resesi Mulai Bulan Ini, Apa yang Perlu Dilakukan?

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 01 Okt 2020 05:30 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi secara kumulatif atau sampai September 2018 sebesar 5,17%.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Kementerian Keuangan memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali minus di kuartal III-2020. Angkanya berada di kisaran minus 2,9% sampai minus 1%. Dengan begitu, Indonesia mengalami resesi.

Sebab, realisasi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II tahun ini minus 5,32%. Resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi minus dua kuartal berturut-turut.

Namun demikian masyarakat dinilai tidak perlu panik menyikapi ekonomi Indonesia bakal masuk resesi bulan ini. Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalami resesi, banyak negara mulai dari yang maju maupun berkembang sudah terlebih dahulu masuk jurang resesi.

"Saya kira yang perlu diperhatikan masyarakat, bahwa resesi juga dialami oleh negara lain dan masyarakat tidak perlu panik," kata Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet saat dihubungi detikcom, Jakarta, Rabu (30/9/2020).

Yusuf mengatakan, saat ini masyarakat hanya perlu menyiapkan dana darurat yang bisa digunakan saat Indonesia benar-benar resesi. Sebab, menurut para ekonom, kondisi tersebut akan berdampak pada pelemahan daya beli hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bahkan dampak dari resesi ini akan membuat PHK yang sudah terjadi sejak awal pandemi COVID-19 terus berlanjut. Pegawai yang saat ini statusnya dirumahkan dan kena pemotongan gaji pun bisa bernasib lebih buruk.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2