RI Sudah Deflasi 3 Bulan Berturut-turut

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 01 Okt 2020 11:30 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya inflasi 0,55% di Juni 2019. Penyumbang inflasi terbesar adalah naiknya harga makanan di selama Lebaran.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan telah terjadi deflasi selama tiga bulan berturut-turut, yaitu sebesar 0,10% pada Juli, 0,05% pada Agustus, dan 0,05% di September 2020.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, terjadinya deflasi selama dua bulan berturut-turut menandakan daya beli masyarakat atau tingkat konsumsi rumah tangga melemah dan butuh waktu untuk kembali ke titik normal.

"Pergerakan tingkat inflasi dari bulan ke bulan, dengan deflasi 0,05% di September 2020 berarti terjadi deflasi berturut selama 3 bulan, selama Q3 (Kuartal III) 2020 Juli-Agustus-September terjadi deflasi," kata Suhariyanto di Jakarta, Kamis (1/10/2020).

Suhariyanto mengatakan untuk inflasi tahunan, pada bulan September kemarin inflasi tahunan 1,42% atau naik dibanding posisi Agustus yang sebesar 1,32%. "Tetapi kalau dibandingkan Juli 2020 inflasi September 1,42% ini lebih rendah," jelasnya.

Berdasarkan komponennya, deflasi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau 0,37% dengan andil 0,09%. Deflasi Agustus didominasi oleh penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras dengan andil 0,04%. Kemudian ada penurunan harga bawang merah dengan andil 0,02% dan beberapa jenis sayuran seperti tomat serta cabai rawit masing-masing 0,01%.

"Untuk daging ayam ras turun di 67 kota IHK, penurunan terbesar di Watanponi dan Maumere masing-masing turun 24%. Telur ayam ras di 79 kota IHK, di mana terbesar di kota baru turun 26%, bawang merah di 75 kota IHK," kata Suhariyanto.

Selain itu, kelompok transportasi juga deflasi 0,33% dan sumbangannya ke deflasi sebesar 0,04%. Komoditas yang dominan untuk kelompok ini ada penurunan tarif angkutan udara andilnya 0,04%.

Sementara, masih ada beberapa kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi, paling tinggi kelompok pendidikan yang inflasi 0,62%, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,25%. Kemudian diikuti oleh perlengkapan peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,15%.

(fdl/fdl)