Donald Trump Positif Corona, Ekonomi RI Waspada

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 02 Okt 2020 15:10 WIB
Sepekan terakhir ini dunia informasi media ramai diwarnai oleh berita perang antara Armenia dan Azerbaijan hingga Donald Trump dinyatakan positif Corona.
Foto: AFP/ALEX EDELMAN
Jakarta -

Perekonomian Indonesia masih penuh ketidakpastian yang berasal dari sektor kesehatan. Persoalan utamanya adalah pandemi Corona yang telah terjadi lebih dari enam bulan ini belum juga selesai. Dampak krisis kesehatan ini sangat besar terhadap ekonomi nasional maupun dunia.

Belum juga selesai menangani masalah sektor kesehatan, pemerintah harus mewaspadai dampak yang berasal dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Orang nomor satu di negeri Paman Sam ini baru saja terkonfirmasi positif terjangkit virus Corona.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengatakan, kabar Donald Trump positif Corona menjadi tambahan ketidakpastian bagi perekonomian Indonesia.

"Ketidakpastiannya tinggi sekali. Siang ini Trump kena COVID, pasar futures financial jatuh 500 poin. Itu semua pasti ada konsekuensinya," kata David dalam acara Dialogue KiTa secara virtual, Jumat (2/10/2020).

Penurunan indeks saham berjangka AS, menurut David akan berdampak pada ekonomi nasional. Apalagi data ekonomi Indonesia ini masih belum menunjukkan perbaikan yang sesuai harapan. Dia menyebut, lemahnya naik turunnya komoditas membuat kinerja ekspor nasional memuaskan.

Fluktuasinya harga komoditas juga disebabkan oleh ketidakpastian dunia yang berasal dari perang dagang antara China dengan AS. Kondisi tersebut, menurut David telah menurunkan nilai perdagangan internasional dan berdampak pada ekonomi nasional yang masih bertumpu pada komoditas.

Dia pun berharap pemerintah segera memiliki rencana mitigasi dampak yang berasal dari ketidakpastian di luar COVID-19.

"Kondisi politik Amerika dan pasar modal ada pengaruh pasti. Saham Amerika juga perlu diperhatikan," ungkapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Donald Trump Seret Facebook hingga Google ke Pengadilan AS"
[Gambas:Video 20detik]