3 Fakta Negeri Raja Salman yang Mau Boikot Produk Turki

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 05 Okt 2020 18:00 WIB
FILE - In this Dec.10, 2019, file photo, Saudi King Salman talks during the 40th Gulf Cooperation Council Summit in Riyadh, Saudi Arabia. Saudi Arabias King Salman was discharged from a hospital in the capital, Riyadh, after more than a week following surgery to remove his gall bladder, the Royal Court said in a statement late Thursday, July 30, 2020. (AP Photo/Amr Nabil, File)
Raja Salman/Foto: AP Photo/Amr Nabil, File
Jakarta -

Arab Saudi murka dengan Turki hingga berujung perang dagang. Dengan tegas Negeri Raja Salman tersebut memutuskan untuk memboikot semua produk dari Turki.

Berikut faktanya:

1. Mulai dari Investasi hingga Pariwisata

Kepala Kamar Dagang Arab Saudi Ajlan Al Ajlan menyerukan untuk memboikot semua produk Turki termasuk impor, investasi, dan pariwisata.

"Boikot semua yang dari Turki, baik pada tingkat impor, investasi atau pariwisata, adalah tanggung jawab setiap Saudi yakni pedagang dan konsumen sebagai tanggapan atas permusuhan berkelanjutan dari pemerintah Turki terhadap kepemimpinan kami, negara kami dan warga negara kami," kata Al Ajlan dikutip dari Gulf News, Senin (5/10/2020).

2. Bermula Dari Turki Sindir Arab Saudi

Seruan boikot datang setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan beberapa negara di Teluk Arab menargetkan Turki dan mengejar kebijakan yang membuat kawasan itu tidak stabil.

"Tidak boleh dilupakan bahwa negara-negara tersebut tidak ada kemarin dan mungkin tidak akan ada besok. Namun kami akan terus mengibarkan bendera kami di wilayah ini selamanya, dengan izin Allah," kata Erdogan.

3. Dampaknya ke Ekonomi Turki

Jika arahan boikot benar diikuti warga Arab Saudi, itu akan mempengaruhi ribuan eksportir Turki. Apalagi saat ini ekonomi Turki sedang goyah.

Lira Turki telah menukik, turun ke rekor terendah pada hari Senin di lebih dari 7,7 terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari Reuters, lira adalah salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini, turun 22%.

Dampak virus Corona dikombinasikan dengan krisis mata uang yang dimulai pada 2018 telah menyebabkan resesi tajam, dengan cadangan devisa bruto di bank sentral turun hampir setengahnya tahun ini.

(ara/ara)