Singapura Mau Kasih Bonus ke Warga yang Mau Punya Anak Saat Corona

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 07 Okt 2020 14:47 WIB
Tak ada yang tak mengenal patung merlion. Tak hanya menjadi ikon nasional, merlion pun menjadi daya tarik andalan pariwisata Singapura, tepatnya di Merlion Park
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Singapura akan memberikan uang kepada calon orang tua di tengah pandemi COVID-19. Wakil Perdana Menteri Singapura Heng Swee Keat mengatakan insentif itu akan membantu keluarga dalam menghadapi tekanan keuangan saat ini.

"Kami telah menerima masukan bahwa COVID-19 telah menyebabkan beberapa calon orang tua menunda rencana mereka," kata Heng, dikutip dari CNN, Rabu (7/10/2020).

Heng mengatakan pembayaran tersebut akan berbentuk uang tunai, namun dia tidak mengatakan berapa banyak yang akan dibayarkan. Meskipun penanganan kesehatan Singapura sangat sukses melawan COVID-19, ekonomi Singapura telah dilanda resesi yang dalam.

Produk domestik bruto (PDB) Singapura menyusut 12,6% pada kuartal-II 2020 dibandingkan dengan waktu yang sama tahun sebelumnya. Penurunan itu menjadi paling parah dalam sejarah.

Sejauh ini, Singapura menjadi salah satu negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia. Menurut badan statistik nasional, tingkat kelahiran di Singapura saat ini hanya 1,14 per wanita.

Menurut Bank Dunia kondisi itu setara dengan Hong Kong. Sedangkan Korea Selatan dan wilayah AS, Puerto Rico memiliki taraf kelahiran lebih rendah lagi.

Jika suatu negara ingin memiliki tingkat kelahiran yang baik, angka rata-ratanya 2,1. Meskipun sebagian besar negara maju sekarang berada di bawah tingkat itu. Hal itu disebabkan penurunan proporsi pasangan dan berkurangnya tingkat kesuburan secara global.

Singapura telah berjuang untuk meningkatkan tingkat kelahiran sejak 1980-an. Upaya yang telah dilakukan negara dengan kampanye untuk mendorong persalinan dan sejumlah insentif keuangan dan pajak bagi calon orang tua.

"Seperti banyak negara maju, tantangan utama populasi Singapura adalah kesuburan yang rendah dan populasi yang menua. Tujuan kami adalah untuk mencapai populasi yang berkelanjutan yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi dan kohesi sosial, sehingga Singapura tetap bersemangat dan layak huni." kata Singapura.

Perlu diketahui, negara ini telah melawan pandemi COVID-19. Respons negara lebih cepat dari negara lain, dari mengisolasi kasus yang dicurigai lebih awal, memberlakukan lockdown, dan menggunakan inovasi teknologi untuk mempercepat jaringan pelacakan. Menurut Johns Hopkins University hanya 27 orang telah meninggal akibat COVID-19 di Singapura.

(ara/ara)