Bank Dunia: Gegara Pandemi, 1,4% Populasi Dunia Alami Kemiskinan Ekstrem

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 08 Okt 2020 09:39 WIB
Pandemi COVID-19 berdampak luas ke berbagai sektor kehidupan serta lapisan masyarakat. Anak-anak pun turut merasakan dampak dari pandemi ini.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

World Bank atau Bank Dunia memproyeksi kemiskinan ekstrem akan meningkat tahun ini untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade terakhir akibat pandemi COVID-19. Adapun sebanyak 115 juta orang bakal masuk ke dalam kategori itu. Pada 2021, jumlah ini bisa saja meningkat lagi menjadi 150 juta orang.

Kemiskinan ekstrim versi World Bank ini didefinisikan sebagai hidup dengan pendapatan kurang dari US$ 1,90 setara Rp 27.893 per hari (kurs Rp 14.681/US$).

Sebelum pandemi melanda, angka kemiskinan ekstrem diperkirakan turun 7,9% pada 2020. Tapi sekarang kemungkinan akan mempengaruhi antara 9,1% dan 9,4% dari populasi dunia.

Di sisi lain, kekayaan miliarder dunia malah mencapai rekor tertinggi mereka selama pandemi, terutama para elit teknologi dan industri yang mendapat penghasilan paling banyak. Kekayaan orang terkaya di dunia melonjak 27,5% menjadi US$ 10,2 triliun dari April hingga Juli tahun ini, menurut laporan dari bank Swiss UBS.

Kemunduran Serius

Sejak 2013, Bank Dunia telah berupaya mencapai target agar tidak lebih dari 3% populasi dunia hidup hanya dengan pendapatan US$ 1,90 sehari pada tahun 2030 mendatang. Namun, sekarang, tujuan itu mungkin tidak akan tercapai tanpa kebijakan yang cepat, signifikan dan substansial.

Laporan Bank Dunia menemukan bahwa banyak orang miskin baru yang muncul di negara-negara yang telah memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi, dengan 82% dari total diperkirakan berada di negara-negara berpenghasilan menengah.

Bank Dunia mengatakan kemajuan dalam mengurangi kemiskinan global sudah melambat bahkan sebelum krisis COVID-19. Antara 2015 dan 2017, 52 juta orang keluar dari kemiskinan, tetapi tingkat penurunan selama periode itu kurang dari setengah persen per tahun.

Ini kurang cepat dibandingkan tahun-tahun antara 1990 dan 2015, ketika kemiskinan global turun dengan laju sekitar satu poin persentase setahun.

"Pandemi dan resesi global dapat menyebabkan lebih dari 1,4% populasi dunia jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem," kata Presiden Grup Bank Dunia David Malpass dikutip BBC, Kamis (8/10/2020).

Dia mengatakan untuk membalikkan 'kemunduran serius' ini, negara-negara perlu mempersiapkan ekonomi yang berbeda pasca COVID-19, dengan mengizinkan modal, tenaga kerja, keterampilan, dan inovasi untuk pindah ke bisnis dan sektor baru.

Namun, ia berjanji bahwa dukungan Bank Dunia akan tersedia bagi negara negara berkembang saat mereka bekerja menuju pemulihan yang berkelanjutan dan inklusif.

Untuk itu, pemberi pinjaman yang berbasis di Washington ini menawarkan hibah dan pinjaman berbunga rendah senilai US$ 160 miliar untuk membantu lebih dari 100 negara miskin mengatasi krisis.



Simak Video "Cerita Sukses Sri Mulyani Pimpin Kemenkeu hingga Bank Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)