Terparah Dalam Sejarah, Maskapai Ini Rugi Rp 15 T Diterpa Corona

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 09 Okt 2020 12:30 WIB
Pesawat easyJet
Foto: Dok. easyJet
Jakarta -

Maskapai asal Inggris EasyJet memprediksi akan mengalami kerugian lebih dari 800 juta pound sterling atau setara Rp 15,2 triliun (kurs Rp 19.000/pound). Kerugian ini menjadi kerugian pertama dalam 25 tahun sejarah EasyJet.

Dikutip dari BBC, Jumat (9/10/2020) perusahaan memperkirakan penerbangan tahun depan hanya 25% dari kapasitas normal. Maskapai meluruskan bahwa sebelumnya mereka telah berupaya meminimalisir kerugian dengan memotong pengeluaran. Namun kerugian tidak bisa dihindari dan menjadi peringatan bagi industri penerbangan bawah mereka akan menghadapi tantangan lain ke depannya.

Kepala eksekutif EasyJet Johan Lundgren mengatakan industri tengah mengalami ancaman yang paling parah dalam sejarah. Dia berpendapat pemerintah Inggris harus meningkatkan paket bantuan agar maskapai penerbangan ikut andil dalam pemulihan ekonomi Inggris.

Selama puncak musim panas, maskapai ini masih dapat beroperasi dengan kapasitas 38%, tetapi ekspektasi untuk tiga bulan terakhir tahun ini jelas sangat terbatas.

Kerugian EasyJet sebelum pajak diperkirakan antara 815 juta pound sterling dan 845 juta pound sterling tahun ini. Prediksi itu lebih buruk dari perkiraan analis yang memperkirakan kerugian mencapai 794 juta pound sterling.

Berbagai upaya penghematan telah dilakukan oleh EasyJet, termasuk melakukan pinjaman 600 juta pound sterling dari pemerintah, memangkas 4.500 pekerjaan, mengumpulkan 608 juta pound sterling dari penjualan pesawat dan menarik pemegang saham sebesar 419 juta pound sterling.

EasyJet mengatakan akan terus meninjau posisi likuiditasnya secara teratur dan akan terus menilai peluang pendanaan lebih lanjut, termasuk meninjau apakah perlu perusahaan melakukan penjualan dan penyewaan armada maskapai.

Maskapai lain juga tengah terpukul akibat pandemi COVID-19. Ryanair menargetkan hanya 40% penerbangan yang akan dioperasikan pada bulan Oktober. Sedangkan, EasyJet untuk Juli-September hanya 38%.

Maskapai penerbangan Inggris menyerukan bahwa pemerintah harus melakukan langkah-langkah keringanan bagi maskapai. Seperti keringanan pajak, mengurangi waktu lockdown dan mempersingkat masa karantina 14 hari bagi warga yang akan melakukan perjalanan ke seluruh Eropa.

Sejauh ini pemerintah Inggris tengah mencari cara untuk mengurangi karantina. Pemerintah berjanji akan menetapkannya pada November mendatang.

(eds/eds)