Eksportir-Petani Kopi Sumbar Sepakati Kerja Sama Kemitraan Pemasaran

Abu Ubaidillah - detikFinance
Jumat, 09 Okt 2020 16:51 WIB
Kementan
Foto: Kementan
Jakarta -

Di tengah pandemi COVID-19, kopi Minang Sumatera Barat berpeluang untuk dilakukan peningkatan akses pasar dan ekspor seiring dengan diinisiasinya kegiatan business matching sekaligus penandatanganan kesepakatan kerja sama kemitraan pemasaran antara pelaku usaha/eksportir kopi dengan kelompok tani kopi Minang di Kota Padang, Sumatera Barat sekaligus.

Penandatanganan dilakukan antara PT Surya Indo Singa dengan 16 Ketua Kelompok Tani Kopi Minang dari Kabupaten Solok Selatan, Pasaman Barat, Solok, 50 Kota, Agam, dan Tanah Datar disaksikan oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Kasubdit Pemasaran Hasil, Kelapa Seksi Pemasaran Internasional dan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat beserta jajarannya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Provinsi Sumatera Barat, Syafrizal menyambut baik pelaksanaan business matching ini. Menurutnya ini menjadi momentum penguatan pasar kopi di Provinsi Sumatera Barat.

"Walaupun saat ini di masa pandemi terdapat beberapa kendala pasar ekspor kopi, tetapi kedepan melalui kegiatan ini diharapkan ekspor kopi Sumatera Barat bisa meningkat signifikan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10/2020).

Selain kopi, menurutnya potensi perkebunan Sumatera Barat yang juga perlu dilakukan pengembangan dari hulu ke hilir dan ekspor adalah komoditas kakao, kepala, karet, sawit, teh, rempah-rempah.

"Kami jajaran Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan terus mendukung Ditjen. Perkebunan dalam akselerasi peningkatan ekspor komoditas perkebunan di Sumatera Barat, utamanya kopi di 7 sentra produksi kabupaten seperti Agam, Tanah Datar, Solok, Solok Selatan, Pasaman, 50 Kota, dan Pasaman Barat," paparnya.

Berdasarkan data Dinas TPHortiBun, ekspor kopi Minang hingga September 2020 tercatat mencapai volume 275 ton atau senilai Rp 6,45 ke Malaysia, Korea Selatan, Hong Kong, dan beberapa negara Timur Tengah.

Acara business matching juga dihadiri oleh pelaku usaha/eksportir kopi dari Bandung, yakni PT Surya Indo Singa. Direktur Utama PT Surya Indo Singa, Lily Ratnasari yang berpengalaman 3 tahun menjalankan bisnis ekspor kopi mengapresiasi adanya kegiatan ini.

Menurutnya walaupun di tengah pandemi, permintaan kopi masih terus berdatangan meski jumlahnya belum signifikan. Dalam waktu dekat, ia juga menyebut mendapat order ekspor dari Korea dan Eropa jenis robusta serta arabika sehingga ia berharap mendapat pasokan kopi dari Sumatera Barat.

"Saya juga mengapresiasi semangat para petani yang hadir pada acara ini hingga saat mengunjungi sentra kopi solok radjo. Selanjutnya saya mengharapkan petani kopi di Sumatera Barat dapat mempertahankan kualitas kopi untuk memenuhi selera pasar," ungkap Lily.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Dedi Junaedi menyampaikan di tengah pandemi COVID-19 dan ekonomi Indonesia defisit 5,32%, sub sektor perkebunan tumbuh positif dan menjadi jaminan pemulihan ekonomi nasional dari sektor pertanian.

Tercatat PDB di sektor pertanian tumbuh 16,24% pada triwulan II tahun 2020. Khusus komoditas kopi, ekspor Indonesia ke dunia meningkat 12% dari sisi volume jika dibandingkan triwulan II tahun 2019. Menurutnya ini menjadi angin segar bagi pengembangan komoditas perkebunan Indonesia, terutama kopi Minang, Sumatera Barat.

"Saya harapkan kedepan komitmen Bersama antara Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Prov Sumatera Barat, Ditjen. Perkebunan dan para pelaku usaha dalam mengakselerasi peningkatan ekspor komoditas kopi, selain itu Bersama-sama dalam memperbaiki rantai pasok kopi, mutu produk, nilai tambah dan memperkuat kemitraan petani," ungkapnya.

Perwakilan Direktorat Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan yang juga menghadiri kegiatan business matching ini akan terus mendorong akses pasar kopi Indonesia, terutama melalui promosi serta penyederhanaan tata niaga dan prosedur-prosedur ekspor.

Selain itu, Ketua Asosiasi Kopi Minang Sumatera Barat juga memaparkan perkembangan pemasaran kopi Minang yang dalam masa pandemi ini belum menemui kendala signifikan terkait pemasaran. Permintaan terus berdatangan untuk skala kecil dan menengah ke beberapa kota di Indonesia dan stok kopi Minang masih cukup untuk memenuhi permintaan tersebut.

Hadir pula Ketua Kelembagaan Ekonomi Usaha KSPU-Solok Radjo yang membahas mengenai success story pembinaan petani kopi arabika dan pemasarannya di Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono berterima kasih kepada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat atas pelaksanaan business matching yang akan mendorong suksesnya peningkatan ekspor komoditas perkebunan Indonesia, khususnya produk kopi dalam rangka akselerasi program gratieks (gerakan tiga kali lipat ekspor) hingga tahun 2024.

"Ditjen Perkebunan terus memfasilitasi petani untuk memberikan bantuan sarana alat pascapanen dan pengolahan untuk menghasilkan produk-produk kopi bernilai tambah tinggi, juga dalam hal pembinaan dan pendampingan petani," ungkapnya.

Menurutnya, saat ini hanya tercatat kopi bareh Solok di tahun 2018 (dikenal dengan nama Sumatera Arabica Minang Solok) yang mendapat sertifikat indikasi geografis. Pihaknya mendorong penetapan kopi-kopi di Sumatera Barat lain yang memiliki ciri khas dari sisi geografis yang dihasilkan melalui perbedaan rasa dan aroma.

"Saya mencatat ada potensi jenis kopi Sumbar yang diperdagangkan dengan nama dagang Solok Rajo, Lasi, Robusta/Arabica Equator Talu, Kopi Kajai Spesialty, Charmintoran Coffee, kopi Payo dan lain-lain untuk mendapat pengakuan spesifik dari Indikasi Geografis," ungkapnya.

Menurutnya, pengakuan indikasi geografis pada suatu produk diyakini akan membawa banyak dampak positif, khususnya aspek perekonomian dan sosial, antara lain mampu menghasilkan produk berdaya saing dan pada akhirnya mendongkrak nilai jual suatu produk secara signifikan.

(ega/hns)