Kerugian Maskapai Penerbangan AS Kian Dalam

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 13 Okt 2020 10:46 WIB
Pandemi COVID-19 berdampak dahsyat terhadap industri penerbangan. Wabah itu berdampak ke bisnis maskapai penerbangan di seluruh dunia yang terkapar dan kalut.
Ilustrasi/Foto: Getty Images
Jakarta -

Industri penerbangan Amerika Serikat (AS) telah hancur sejak kuartal-II 2020. Laporan keuangan kuartal-III 2020 diprediksi akan mencatat maskapai penerbangan secara keseluruhan merugi lagi.

Dikutip dari CNN, Selasa (13/10/2020) maskapai penerbangan AS pada kuartal-II 2020 melaporkan kerugian gabungan sebesar US$ 12 miliar atau setara Rp 177 triliun (kurs Rp 14.700/US$). Pendapatan pada kuartal-II juga turun sebesar 86% dibandingkan tahun sebelumnya. Analis memperkirakan kerugian kuartal-III akan mencapai US$ 10 miliar.

Laporan keuangan Delta Air Lines diprediksi akan bertanda merah sebab kerugian terjadi pada perusahaan. Sejauh ini maskapai penerbangan AS telah melakukan upaya untuk meminimalisir kerugian. Upaya itu termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK), pensiun dini, dan cuti tak berbayar. Maskapai juga beberapa kali melakukan sedikit perjalanan udara.

Namun, berbagai upaya itu belum bisa meredakan kerugian dibandingkan kuartal sebelumnya. Analis Wall Street memperkirakan penjualan industri penerbangan akan turun 75% pada kuartal-III 2020. Mengingat sejauh ini pemesanan perjalanan musim liburan dan perjalanan bisnis tercatat sedikit.

Beberapa maskapai penerbangan AS baru-baru ini dikabarkan telah melakukan PHK dan cuti paksa. Meski batas akhir syarat dari bantuan penggajian menetapkan maskapai dilarang melakukan PHK, cuti paksa, dan pemotongan gaji hingga 30 September 2020.

Perlu diketahui Kongres AS telah menggelontorkan dana penggajian maskapai senilai US$ 25 miliar. Uang itu telah dibagikan kepada seluruh maskapai AS pada Maret lalu. Maskapai yang menerima bantuan itu dilarang melakukan PHK, cuti paksa, dan pemotongan gaji karyawan hingga 30 September 2020.

Setelah masa kedaluwarsa bantuan penggajian berakhir, maskapai penerbangan AS berencana melakukan PHK massal. Sebab pemerintah AS belum memastikan untuk memperpanjang bantuan itu. American Airlines dikabarkan akan memangkas 19 ribu pekerja dan United Airlines memangkas 13 ribu pekerja.

Sejumlah maskapai mengatakan PHK massal bisa dicegah jika pemerintah AS bisa memperpanjang stimulus penggajian. Secara keseluruhan maskapai penerbangan AS tercatat mengalami kerugian setahun penuh jika kuartal-III tercatat merugi lagi.

CEO American Airlines Doug Parker mengatakan dia tidak berharap dalam waktu dekat permintaan perjalanan akan pulih. Parker berharap tahun depan permintaan perjalanan bisa sedikit meningkat.

Sejauh ini menurunnya jumlah perjalanan disebabkan ketakutan penumpang akan keamanan pada protokol kesehatan. Namun, tidak hanya itu masalah ekonomi juga membuat orang berhenti melakukan liburan. Kini negara baru mulai melakukan pemulihan ekonomi. Namun, ekonom dan Federal Reserve telah memperingatkan pemulihan akan lambat kecuali pemerintah AS mengeluarkan stimulus tambahan.

(eds/eds)