Impor RI Masih Anjlok 18,88% di September 2020

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 15 Okt 2020 11:40 WIB
Terminal Peti Kemas (TPK) Koja terus memberikan layanan terbaiknya bagi para pelanggannya. Kini, dalam mendukung Pelabuhan Tanjung Priok ia memperluas layanan agar bisa melayani pelayaran internasional.
Foto: dok. TPK Koja
Jakarta -

Nilai impor Indonesia pada September sebesar US$ 11,57 miliar. Angka ini naik 7,71% dibandingkan bulan sebelumnya dan turun 18,88% secara year on year (yoy) atau dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kalau dibandingkan pada Agustus 2020 sebesar 10,74 miliar, maka naik 7,71% dibandingkan bulan lalu. Dibandingkan tahun lalu September 2020, nilai impor September 2020 tumbuh negatif 18,88%" kata Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Selasa (18/8/2020).

"Jadi kalau kita lihat, perkembangan impor dari bulan ke bulan, kita bisa melihat dari gap, di sana pada September 2020 total ekspor kita US$ 11,57 miliar. Jadi impor kita secara bulanan naik, tapi tahunan turun 18,9%" sambungnya.

Suhariyanto menjelaskan impor barang konsumsi mengalami penurunan secara bulanan dan tahunan. Sementara impor bahan baku masih naik secara bulanan namun turun secara tahunan.

"Untuk impor konsumsi dibandingkan Agustus turun 6,12% karena adanya turun impor AC dari Tiongkok, kemudian Raw Sugar dari Thailand, ada juga buah longan dari Thailand. Jadi itu yang menyebabkan impor konsumsi kita turun," katanya.

"Tapi impor bahan baku naik 7,23%. meskipun YoY masih negatif 18,96%. Untuk impor bahan baku dominan impor gandum dari Ukraina, raw sugar dari Thailand, kenaikan impor dari cero alloy dari Afrika Selatan. Ttu komoditas yang menyebabkan bahan baku meningkat," sambungnya.

Sedangkan impor barang modal naik tinggi 19,01%. Kenaikan impor bahan baku dan barang modal diharapkan berpengaruh positif pada geliat industri dalam negeri dan berpengaruh pada Pembentukan Modal Tetap Bruto atau investasi dalam pertumbuhan ekonomi.

(fdl/fdl)