Ternyata Ini Penyebab RI Jadi Negara Paling Rumit untuk Berbisnis

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 16 Okt 2020 15:02 WIB
Pandemi COVID-19 memiliki dampak yang negatif terhadap realisasi investasi di Indonesia.
Ilustrasi Izin Usaha/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Global Business Complexity Index Rankings 2020 menyebut Indonesia sebagai negara yang paling rumit dalam urusan berbisnis. Laporan yang dikeluarkan oleh lembaga riset dan konsultan TMF Group ini menyebut Indonesia adalah negara yang sangat kompleks.

Mengutip laporan tersebut, penyebabnya adalah Indonesia disebut memiliki undang-undang yang ketinggalan zaman. Misalnya UU ketenagakerjaan yang saat ini melindungi tenaga kerja dari eksploitasi.

Selain itu TMF juga menyebut aturan hukum di Indonesia membuat biaya PHK untuk pekerja yang berkinerja buruk sangat mahal. Apalagi informasi PHK untuk pekerja di Indonesia memakan waktu yang lama yakni sekitar 25 minggu.

Para investor menilai jika hal ini menyulitkan mereka untuk bertindak kepada pegawai yang memiliki kinerja buruk. "Peraturan ini disebut kuno oleh investor asing, dan ini jadi salah satu halangan masuknya investasi asing ke Indonesia," tulis laporan tersebut, dikutip Jumat (16/10/2020).

Laporan TMF juga menyebut yang menjadi penghambat bisnis di Indonesia adalah daftar negatif investasi (DNI). Lewat DNI pemerintah membatasi persentase kepemilikan asing di sektor industri.

Pemerintah Indonesia disebut TMF Group sudah mengambil langkah dengan mengonversi DNI menjadi daftar positif investasi. Dari daftar ini, pemerintah akan membuka 16 sektor yang saat ini masih tertutup.

Tim TMF Group untuk Indonesia Alvin Christian mengungkapkan saat ini proses perizinan di Indonesia masih terlalu berbelit. Hal ini sangat mempengaruhi minat investasi perusahaan asing di Indonesia.

Menurut dia, Presiden Indonesia ingin meningkatkan investasi asing dan sedang berupaya mencari cara untuk memudahkan proses bisnis ini.

"Indonesia saat ini menarik dan menjadi pasar yang menguntungkan, dengan kemudahan berbisnis maka RI akan menjadi lebih menarik," jelas dia.

(kil/ara)