Hari Pangan Sedunia, Sudahkah Petani Indonesia Sejahtera?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 16 Okt 2020 16:45 WIB
Aktivitas Petani di Pagi Hari
Ilustrasi/Foto: detik
Jakarta -

Petani adalah pemeran utama dalam sektor pertanian. Oleh sebab itu, tak tepat rasanya memperingati Hari Pangan Sedunia 2020 tanpa mengaitkannya dengan jerih payah petani dalam membangun pertanian Indonesia.

Sayangnya, nasib para petani di Indonesia masih jauh dari kesejahteraan.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa, fluktuasi harga komoditas pangan di tingkat usaha petani jadi buktinya. Hal itu pada akhirnya menyebabkan pendapatan petani paling rendah dibandingkan pendapatan pelaku di sektor usaha lainnya.

"17 sektor usaha di Indonesia, sektor yang pelakunya pendapatan terendah siapa? Kan petani dari 17 sektor tersebut. Lalu kita lihat lebih sempit lagi, upah buruh tani itu hanya 62% dari upah buruh bangunan. Mana ada orang tertarik ke dunia pertanian?" kata Andres kepada detikcom, Jumat (16/10/2020).

Ia mencontohkan, harga pokok penjualan (HPP) gula saja jauh di bawah harga produksinya. Akhirnya, petani tebu harus menanggung kerugian yang tak sedikit.

"Contoh saja gula. HPP gula kan ditentukan Rp 9.700/kg. itu kan nggak masuk akal, biaya produksinya saja sudah Rp 10.500/kg. Ya hancurlah petani gula. Sehingga nanti pabrik-pabrik gula yang berbasis tebu rakyat selesai, 5 tahun lagi tutup semua itu," tegas Andreas.

Padahal, dengan meningkatkan kesejahteraan petani, produksi pangan akan meningkat secara otomatis. Sehingga, swasembada pangan juga akan berjalan dengan sendirinya.

"Ketika petani mendapatkan harga terbaik, maka otomatis mereka pun, kalau jaringan tani kami ditanyakan, anak rumah pun akan disawahkan. Itu dalam arti selama usaha tani menguntungkan, otomatis produksi akan meningkat sendirinya. Nggak perlu gembar-gembor swasembada pangan," tutur Andreas.

Dihubungi secara terpisah, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah juga mengatakan hal serupa. Ia mengatakan, hingga saat ini harga komoditas pangan di tingkat usaha tani, terutama jenis hortikultura sangat hancur. Hal itu menunjukkan, petani Tanah Air belum meraih kehidupan yang sejahtera.

"Dari April-sekarang harga komoditas pertanian masih fluktuatif. Terutama harga hortikultura, itu sampai bulan lalu masih setengah di bawah harga normal, di sebagian sentra. Ada yang kolnya cuma Rp 500/kilogram (Kg), ada yang melonnya hanya Rp 3.000/Kg," jelas Said.

Menurut Said, kesejahteraan petani belum diletakkan pada prioritas pemerintah.

"Orientasi pembangunan itu petaninya harus diarahkan ke peningkatan kualitas kehidupannya. Supaya muncul impact-nya. Kalau sekarang kan bagaimana produksinya dipaksa naik. Tapi petani tidak jadi concern. Jadi seolah-olah petani hanya jadi mesin produksi, mesin tanam," terang dia.

Padahal, jika kesejahteraan petani dinomorsatukan, seluruh cita-cita pemerintah dalam swasembada pangan bisa terwujud dengan sendirinya.

"Saya masih percaya kalau mau mendorong ke swasembada pangan, orientasinya harus digeser. Jadi nggak cuma bagaimana produksi meningkat, tapi juga bagaimana kesejahteraan petani naik. Jadi orientasi pengembangannya ya itu meningkatkan derajat hidup petaninya. Kalau itu dilakukan ya dampaknya pada swasembada. Karena kelakarnya petani itu nggak perlu dikasih macam-macam, asal dikasih keuntungan, ya petani akan tanam terus," tutup Said.

(eds/eds)