Penerimaan Lebih Kecil dari Belanja, APBN Defisit Rp 682 T

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 19 Okt 2020 10:49 WIB
Menkeu Sri Mulyani mengusulkan iuran BPJS Kesehatan yang baru sebesar Rp 160.000 per bulan per jiwa untuk kelas 1.
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Penerimaan negara hingga September 2020 tercatat sebesar Rp 1.159 triliun. Angka tersebut mengalami kontraksi 13,7%.

"Pendapatan negara kita masih sesuai dengan proyeksi memang mengalami tekanan karena bisnis dan pembayaran pajak mengalami tekanan. Pendapatan negara kita kontraksi 13,7% atau capai Rp 1,159 triliun yaitu 68,2% dari target Perpres 72," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers virtual APBN KITA, Senin (19/10/2020).

Sri Mulyani menyebut pemerintah mengakselerasi belanja yang diharapkan bisa mendongkrak ekonomi di kuartal terakhir 2020.

"Pemerintah berhasil akselerasikan belanjanya yang diharapkan dorong siklus positif pada kuartal III dan IV," tuturnya.

Sedangkan belanja negara hingga September 2020 mencapai Rp 1.841,1 triliun dengan pertumbuhan 15,5%. Jika dirinci, belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1,211 triliun dan transfer ke daerah dan dana desa Rp 629,7 triliun.

"Dengan keseimbangan primer kita mencapai negatif Rp 447,3 triliun dan untuk defisit keseluruhan mencapai Rp 682,1 triliun atau 4,16% ini masih dalam Perpres 72," ujarnya.

Dengan penerimaan Rp 1.159 triliun dan belanja Rp 1.841 triliun, maka APBN mengalami defisit Rp 682,1 triliun.

"Kalau Rp 682,1 triliun atau 4,16% tolong diingat defisit negara lain sampai belasan dan 20%. Kalau defisit cuma 4,16% kita berharap Indonesia jauh lebih baik dibanding dunia," ujarnya.

(ara/ara)