Mengintip Rahasia Cuan Dagang Minuman Kekinian Ala Haus!

Herdi Alif Hakim - detikFinance
Senin, 19 Okt 2020 17:16 WIB
Bingung Mau Usaha Apa? Jajal Nih Waralaba HAUS!
Foto: Dok. Instagram Haus!
Jakarta -

Pendiri merek minuman kekinian, Haus! Gufron Syarif mengungkapkan pentingnya memahami pangsa pasar saat mau merintis usaha. Hal inilah yang dilakukan Haus dengan kejeliannya memanfaatkan pasar sehingga mampu membuka banyak cabang di berbagai lokasi.

Dia bercerita pada awalnya, dirinya tertarik melihat bisnis minuman kekinian yang awalnya dipelopori beberapa kedai kopi. Namun, produk dari kopi tersebut sebetulnya belum bisa dinikmati banyak orang, karena segmen pasarnya masih di kalangan menengah dan menengah ke atas.

Di sana lah Gufron melihat ada pasar yang sebetulnya belum digarap, terlebih lagi jumlahnya banyak. Berangkat dari situ di 2018 Gufron mulai merintis Haus dari mulai toko yang kecil di dekat Universitas Binus.

"Saya selalu memperhatikan market nih, zamannya 2015 ada fenomena minuman kekinian, dimulai dengan kopi susu waktu itu, Tuku, dan lain-lain. Wah ini menjanjikan kayaknya. Kita masuk ke kategori ini, tapi di segmen berbeda, kita mau semua bisa minum enak," kata Gufron dalam Festival Ide Bisnis detikcom yang disponsori PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Senin (19/10/2020).

"Resep untuk sukses buka usaha itu, kita bermain di market besar tapi harus menjadi raja di segmennya," ujarnya.

Mulai lah dia membangun toko pertamanya di tahun 2018. Dia menjelaskan sejak awal, Haus menawarkan harga lebih murah daripada minuman kekinian di kedai kopi yang sudah ada. Menurutnya, selama ini segmen middle low alias menengah ke bawah juga mau menikmati minuman kekinian.

"Maka kita buat produk lebih murah, kita ambil pasar middle low-nya, ini belum tergarap. Kalau di mal di kedai bisnis bisa Rp 18 ribuan minimal, sekarang kita cuma jual dari harga Rp 5-20 ribu sudah bisa dapat minuman kekinian," ungkap Gufron.

Toko pertamanya dibuat dengan modal Rp 150 juta, toko sederhana seluas 36 meter persegi, tanpa bisa melakukan fasilitas dine in. Gufron pun tetap melakukan prinsipnya untuk menjadi raja pada segmen pasar.

Maka dari itu sebulan toko berjalan, dirinya langsung menargetkan 50 toko baru untuk dibuka. Menurutnya, hal ini juga dilakukan sebagai pengenalan merek ke pasar, dengan banyak toko, masyarakat akan lebih cepat mengenal usahanya.

Namun yang jadi masalah, modal untuk membuka banyak toko tak murah. Maka dari itu dia membentuk sebuah paket investasi untuk ditawarkan ke beberapa orang, sehingga dirinya bisa membuka toko baru.

"Saya buat paket investasi, saya tawar-tawarkan lah itu, kami tawarin investasi satu toko. Mitra kasih modal, tokonya kami yang urus. Keuntungan 50-50 dari penghasilan bersih," jelas Gufron.

Menurutnya, cara bisnisnya ini memang mirip dengan franchise alias waralaba. Tapi sebetulnya perbedaannya banyak. Lewat konsep paket investasinya, dia tidak menjual merek, SOP, ataupun bahan-bahan produknya ke mitranya.

Namun, Gufron mengatakan pihaknya hanya mengajak kerja sama untuk menanamkan modal, lalu urusan toko diurus oleh pihaknya. Menurutnya hal ini lebih aman.

"Bagi kami principal kita harus urus tokonya, kami nggak percaya kalau orang lain urus mereknya. Lebih baik kita principal yang urusnya," ujar Gufron.

Kini bisnis Gufron pun cukup sukses dengan kecerdikannya mengambil pasar yang belum digarap dari sebuah kategori produk. Penuturannya, sudah ada 105 toko di Jabodetabek dan Bandung.

(eds/eds)