PTPN III Mau Genjot Produksi Gula dan Sawit

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 19 Okt 2020 17:37 WIB
Dituduh AS terjadi kekerasan fisik dan seksual dalam praktik kerja paksa di perkebunan sawit, Malaysia selidiki satu perusahaan
Foto: BBC World
Jakarta -

PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Holding menyatakan akan mengurangi porsi lahan tanam karet dan teh ke depannya. Hal itu menyusul bisnis dua komoditas ini sedang anjlok karena fluktuasi harga di pasar.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, Mohammad Abdul Ghani perusahaan akan fokus terhadap dua komoditas yaitu gula dan kelapa sawit. Bahkan, perseroan akan mengurangi lahan tanam untuk karet dan teh lalu menggantikannya dengan tebu dan sawit.

"PTPN susun roadmap ke depan bahwa kami akan menaikkan produksi gula kami lebih dari 2 kali lipat. Luas lahan karet kami di Jawa kami konversi ke tebu," kata Ghani dalam acara webinar MarkPlus Government Roundtable Series 2: Pemulihan Ekonomi di Sektor Pertanian, Jakarta, Senin (19/10/2020).
Asal tahu saja, PTPN holding adalah BUMN yang mengelola hampir 1,2 juta hektare lahan di Indonesia. Semua lahan tersebut ditanami enam komoditas seperti kelapa sawit, tebu, karet, teh, kakao, dan kopi.

Khusus untuk gula, Ghani menargetkan luas lahan atau area tanamnya dalam waktu lima tahun naik dua kali lipat dari yang saat ini sekitar 55 ribu hektar menjadi 110 ribu hektare. Dalam peningkatan produksi gula ini, dirinya mengaku akan bekerja sama dengan Perhutani.

"Menanam tebu di kawasan perhutanan nasional. Kami pastikan sinergi BUMN swasembada gula 5 tahun ke depan, paling nggak naikkan 2 kali lipat. Komitmen kami, mulai pasarkan untuk gula itu 40 ribu ton ke depan 10 kali lipat," jelasnya.

Dia mengungkapkan alasan perseroan fokus pada produksi tebu untuk memenuhi kebutuhan gula nasional yang selama ini dipenuhi melalui impor. Tidak hanya itu, dengan meningkatkan luas tanam tebu diharapkan ke depannya bisa mengendalikan harga gula di pasar sesuai dengan HET.

"Tebu itu komoditas berjaya tapi sekarang merosot. Data di paparan saya, dari 2019 saja, dari 6,2 juta ton kebutuhan gula kita, 4 juta diimpor. Ini sangat berbahaya. Produksi dalam negeri 2 juta, BUMN separuhnya, sisanya swasta," ungkapnya.

(hek/fdl)