Ekonomi China Mulai Bikin Iri AS hingga Negara-negara Eropa

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 19 Okt 2020 23:00 WIB
Ilustrasi bendera China/ebcitizen.com
Ilustrasi/Foto: Internet/ebcitizen.com
Jakarta -

Ekonomi China tumbuh 4,9% pada kuartal III-2020. Torehan itu menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa ekonomi bisa meroket jika wabah COVID-19 bisa dikendalikan.

Sementara saat ini banyak negara yang masih bertarung dengan pandemi. Bahkan tidak sedikit dari negara dunia yang terancam menghadapi gelombang kedua. Tentu apa yang ditorehkan China itu membuat iri banyak negara di dunia.

Laju pertumbuhan ekonomi China sebenarnya sedikit lebih lambat dari perkiraan para ekonom. Namun ada banyak tanda-tanda kekuatan, dengan kinerja sektor jasa dan konstruksi yang sangat baik.

"Ekonomi China melanjutkan rebound cepatnya pada kuartal terakhir, dengan pemulihan meluas dan mulai mengurangi ketergantungan pada stimulus," kata Ekonomi Capital Economics, Julian Evans-Pritchard dilansir dari CNN, Senin (19/10/2020).

Sebenarnya angka pertumbuhan ekonomi China itu jauh dari pertumbuhan ekonomi negara itu biasanya. Namun dalam situasi pandemi saat ini, 4,9% adalah pertumbuhan ekonomi yang terbilang cukup tinggi.

International Monetary Fund (IMF) sendiri memperkirakan ekonomi China akan tumbuh 1,9% pada tahun 2020. Proyeksi itu jauh lebih baik dibandingkan dengan kontraksi ekonomi sebesar 5,8% di Amerika Serikat dan 8,3% di 19 negara di Eropa.

Cara pemerintah China menangani wabah awal virus Corona sebenarnya telah dikritik oleh beberapa politisi negara barat. Tetapi kebijakan lockdown dan pelacakan populasi yang ketat di China ternyata ampuh mengendalikan virus.

Negara itu juga telah menyisihkan ratusan miliar dolar untuk proyek infrastruktur hanya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank sentral negara itu juga turut mendukung kebijakan tersebut.

Blue print dari mekanisme pengendalian virus di China juga terbukti sulit untuk ditiru oleh negara lain. Terutama bagi negara yang para pemimpinnya tidak memiliki tingkat kontrol yang sama atas populasi mereka seperti di Beijing.

Eropa dan Amerika Serikat sekarang menghadapi lonjakan kasus virus COVID-19 lagi. Paris telah memberlakukan jam malam. Di London, orang-orang dari rumah yang berbeda dilarang saling bertemu di dalam ruangan.

Amerika Serikat rata-rata mencatatkan lebih dari 55.000 kasus baru setiap hari, naik lebih dari 60% sejak penurunan pada pertengahan September kemarin.

Amerika Serikat mungkin tidak akan melakukan lockdown nasional dalam waktu dekat. Tetapi kemungkinan besar ekonominya akan tetap lemah sampai ada pengurangan kasus baru.

Sementara AS sedang berjibaku melawan pandemi dan kemerosotan ekonomi, China akan terus berkuasa. Data ekonomi untuk bulan September menunjukkan pemulihan ekonomi China semakin kuat. Angka produksi industri dan penjualan ritel sangat kuat.

IMF memperkirakan bahwa ekonomi China akan tumbuh sebesar 8,2% pada tahun 2021. Tentu proyeksi pertumbuhan ekonomi itu jauh lebih cepat daripada Amerika Serikat ataupun negara-negara Eropa.

(das/dna)