Kementerian BUMN Bongkar Penyakit Masa Lalu Garuda, Apa Itu?

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 20 Okt 2020 13:40 WIB
Garuda Indonesia meluncurkan desain mask livery (livery pesawat dengan masker) terbaru pada armada B737-800 NG. Masker itu menampilkan motif Barong Bali.
Foto: Istimewa/Garuda Indonesia
Jakarta -

Kementerian BUMN mengungkap penyakit masa lalu yang menggerogoti tubuh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menyebut penyakit yang dimaksud adalah mahalnya mesin-mesin pesawat yang digunakan maskapai pelat merah tersebut.

"Garuda kita tahu punya penyakit masa lalu yaitu mahalnya mesin-mesin pesawat di masa lalu," kata dia dalam Capital Market Summit & Expo 2020 yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (20/10/2020).

Untuk itu, pandemi COVID-19 ini dijelaskannya menjadi momentum untuk Kementerian BUMN melakukan renegosiasi kontrak yang pernah dilakukan Garuda Indonesia, serta renegosiasi untuk mengatasi beban keuangan perusahaan. Dia menerangkan bahwa Garuda sedang melakukan restrukturisasi keuangan secara fundamental.

"Kita ambil kesempatan COVID ini untuk merestrukturisasi Garuda secara menyeluruh," sebutnya.

Garuda, lanjut Kartika juga melakukan relokasi rute-rute penerbangan. Berkaitan dengan itu, dia menjelaskan COVID-19 selain menjadi tantangan juga memberi peluang. Yang terdampak harus diperbaiki, namun peluang-peluang baru juga harus dibuka untuk perbaikan.

"Sehingga diharapkan pasca-COVID nanti garuda lebih sehat dibandingkan Garuda pre-COVID," tambahnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan industri maskapai penerbangan sudah 8 bulan tertekan akibat pandemi COVID-19.

Bahkan menurutnya industri maskapai penerbangan di dunia sudah mulai mengalami kebangkrutan akibat pandemi COVID-19 yang membatasi penerbangan.

"Kita juga tahu begitu banyak maskapai penerbangan yang sudah mengalami kebangkrutan. Sementara kita hari ini masih menghadapi persoalan yang kita geluti selama 8 bulan dan mungkin juga akan berapa bulan dan berapa tahun ke depan," kata dia dalam sebuah diskusi virtual, Kamis (15/10/2020).

(toy/eds)