4 Bukti Ekonomi RI Mulai Pulih

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 20 Okt 2020 18:00 WIB
Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal-I 2018 tumbuh 5,2%. Pertumbuhan itu didukung dengan capaian penerimaan pajak maupun nonpajak.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sepakat bahwa perekonomian Indonesia mulai pulih dari efek pandemi COVID-19.

Keduanya membeberkan sejumlah bukti bahwa ekonomi Indonesia mulai pulih dari pandemi COVID-19 memasuki akhir 2020. Pemulihan itu terlihat dari sejumlah indikator.

1. Aktivitas Industri Meningkat

Airlangga menjelaskan indikator pemulihan ekonomi dapat dilihat dari Survei Kegiatan Dunia Usaha. Hal itu sejalan dengan kapasitas industri yang mulai tumbuh.

"Survei kegiatan dunia usaha menunjukkan adanya perbaikan kinerja kegiatan di triwulan ketiga, sejalan dengan hal ini kapasitas produksi terpakai atau utilisasi industri, penggunaan tenaga kerja juga mengalami peningkatan," kata dia dalam Capital Market Summit & Expo 2020 yang diselenggarakan secara virtual, Senin (19/10/2020).

Diyakini Airlangga, kinerja kegiatan dunia usaha akan terus mengalami peningkatan sampai triwulan 4-2020.

2. Indeks Manufaktur Membaik

Industri pengolahan yang merupakan kontributor terbesar PDB, dijelaskannya juga menunjukkan perbaikan di triwulan 3-2020, tercermin pada Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia.

"PMI daripada BI menunjukkan bahwa kinerja industri pengolahan berada pada level 44,91 di triwulan ketiga 2020 dan akan terus meningkat di triwulan keempat 2020. Aktivitas industri ini terlihat dari mulai meningkatnya impor bahan baku dan barang modal di bulan September 2020," papar Airlangga.

"Aktivitas sektor manufaktur global juga pulih dari penurunan tajam di bulan April, PMI di beberapa negara menunjukkan perbaikan ataupun masuk dalam range 50 di bulan September 2020," tambah Airlangga.

3. Neraca Dagang Surplus

Sri Mulyani mengatakan indikator pemulihan ekonomi terlihat dari neraca perdagangan yang didorong oleh momentum perbaikan ekonomi global. Neraca perdagangan non migas Indonesia tercatat surplus meski hal tersebut lebih didorong oleh impor yang tertekan cukup dalam.

"Ekspor September didorong pertumbuhan migas 17,4% dan non migas 6,47% secara mtm, kalau komoditas kelapa sawit dan logam mulai berikan dampak positif," katanya dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Senin (19/10/2020).

"Kalau di-breakdown, impor bahan baku 69,5% mengalami pertumbuhan positif mtm di 6,97%. Ini bagus ini momentumnya bahan baku dan penolong sudah positif sejak Juli-Agustus-September trennya solid," lanjutnya.

Sementara impor barang modal pada September 2020 yang mengalami peningkatan secara bulanan diyakini jadi sentimen positif bagi kegiatan ekonomi di dalam negeri.

4. Nilai Tukar Rupiah Membaik

Sementara dari indikator keuangan, nilai tukar rupiah yang membaik dan kupon surat berharga negara yang mengalami penurunan menjadi berita positif.

"Ini tren gambarkan outlook membaik," kata Sri Mulyani.

(toy/eds)