5 Cara Bikin Brand yang Nggak Pasaran Biar Bisnis Makin Cuan

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 21 Okt 2020 14:55 WIB
Infografis Tips Bisnis Online
Foto: (detikcom)
Jakarta -

Membangun sebuah merek atau brand merupakan salah satu kunci sukses dalam berbisnis. Untuk membangun brand itu pun tak mudah, apalagi di tengah kompetisi yang sangat tinggi.

CEO Neyma Dodi Zulkifli mengatakan, sejak tahun 2011 saja Depkumham melampirkan data bahwa setiap tahunnya lahir 50.000 brand baru. Menurutnya, saat ini pasti jauh lebih banyak lagi brand-brand yang lahir, baik setiap hari, minggu, bulan, sampai tahun. Lantas, bagaimana cara membangun brand yang berbeda dari yang lain?

"Ada 5 poin untuk menemukan pembeda tanpa biaya mahal, kalau kondisi sekarang sudah hypercompetitive. Nah biasanya memang banyak keluhan, mau jual produk harga murah saja ditawar, apalagi jual mahal. Padahal produknya lebih berkualitas dan enak dari kompetitor," kata Dodi dalam acara Festival Ide Bisnis detikcom yang disponsori PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Rabu (21/10/2020).

Berikut 5 cara untuk membuat brand berbeda:

1. Brand Sukses Bukan yang Dikenal Saja

Dodi mengatakan, sebagian besar orang menilai tujuan brand dibangun adalah agar dikenal atau diingat. Padahal, tujuan terpenting membangun brand adalah untuk melahirkan loyalitas.

"Ada 3 brand yang sampai sekarang pasti masih dikenal dan diingat seseorang. Contoh Nokia, Blackberry, Kodak. Siapa sih yang nggak kenal? Dulu brand sejuta umat. Tapi sekarang di mana bisnis 3 brand tadi?" tutur Dodi.

Oleh sebab itu, tujuan utama brand adalah untuk membangun loyalitas, di mana pelanggan akan terus memesan atau membeli.

"Tujuan bisnis mencari profit, tujuan brand mencari loyalitas, atau repeat order. Di mana hubungan kedua itu? Kalau bisnis banyak yang repeat order, maka cost akan turun, karena tidak perlu lagi keluar biaya marketing, kan konsumen sudah kenal. Maka profit akan naik," jelas Dodi.

2. Konsumen Tidak Membeli Produk Berkualitas

Dalam Festival Bisnis detikcom itu, Dodi menjelaskan bahwa perilaku konsumen tak hanya membeli produk berkualitas. Tapi, produk yang dipersepsikan konsumen berkualitas.

"Misalnya saya jual pasta gigi yang dibuat di pabrik yang sama, bahan yang sama, formula yang sama dengan Pepsodent. Lalu saya juga jual lebih murah. Tapi saya yakin 90% di luar sana tidak akan membeli pasta gigi saya walaupun lebih murah. Kenapa konsumen mau beli yang mahal walaupun value-nya sama? Padahal Pepsodent sama saja kualitasnya dengan pasta gigi saya, tapi dipersepsikan lebih berkualitas. Jadi yang membuat konsumen beli itu bukan produk berkualitas, tapi persepsi," ungkap Dodi.

Sehingga, ia menegaskan jika ingin brand dipilih konsumen, mulailah bangun persepsi.

3. Konsumen Tidak Membeli Produk Unik

Menurut Dodi, konsumen cenderung memilih produk yang spesifik, bukan unik. "Contoh, Feminax dan Paramex itu sama-sama paracetamol. Keduanya bisa untuk sakit kepala. Tapi ketika seorang pria pusing, dia tidak akan ambil obat paracetamol yang dituliskan untuk nyeri haid. Dia fokus mencari obat untuk sakit kepala," ujar Dodi.

Dalam hal ini, menurut Dodi positioning, atau menetapkan tujuan produk untuk suatu kebutuhan konsumen adalah penting.

"Jadi kalau teman-teman pebisnis menuliskan obat segala macam penyakit, padahal yang dicari konsumen obat untuk sakit kepala, ya akhirnya tidak ketemu solusinya," papar Dodi.

4. Membuat Positioning Bukan dari Produk

Ia mengatakan, menetapkan positioning atau tujuan produk bukanlah dari produk itu sendiri, tapi dari sisi konsumen.

"Contoh konsumen lagi makan bakso. Ada dua kerupuk yang sama, rasanya sama. Tapi produk A di kemasannya tertulis kerupuk untuk makan bakso. Otomatis konsumen akan memilih kerupuk itu. Jadi positioning bukan dimulai dari produk, tapi dimulai dari masalah dan perilaku konsumen," ungkapnya.

5. Value Tidak untuk Semua Orang

Ia mengatakan, value sebuah produk tidak bisa untuk semua orang, atau semua kategori konsumen.

"Contoh kerupuk tadi. Ada yang bertanya, lho berarti kerupuk saja cuma laku di warung bakso? Nggak bisa di warung lain? Nah kalau saya, lebih baik saya spesifik tapi jadi market leader. Ketimbang saya jadi rata-rata, bisa diterima semua warung saja," imbuh Dodi.

Selain tips-tips bisnis di atas, detikers juga bisa mencari tips lainnya di Festival Ide Bisnis detikcom. Acara yang disponsori PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk ini gratis.

(dna/dna)