Sri Mulyani Diminta Kaji Lagi soal Rencana Kenaikan Cukai Rokok

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Kamis, 22 Okt 2020 12:21 WIB
Ilustrasi Pita Cukai Rokok
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Kabar mengenai kenaikan tarif cukai rokok hingga 19% menjadi perhatian para pelaku di industri tersebut, termasuk Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI).

Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI) Sriyadi Purnomo berharap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Presiden Joko Widodo dapat mempertimbangkan ulang rencana kenaikan tersebut.

"Kenaikan tinggi di masa pandemi COVID-19 ini akan memberikan dampak negatif bagi penghidupan puluhan ribu pelinting SKT yang mayoritas adalah tulang punggung keluarga," kata Sriyadi saat dihubungi wartawan di Jakarta (21/10).

Sriyadi juga mengungkapkan dampak negatif yang akan terjadi apabila kenaikan cukai eksesif dijalankan. Pertama, para ibu pelinting SKT yang mayoritas berpendidikan SD-SMP, akan terancam kehilangan pekerjaan. Ini dikarenakan permintaan pasar terhadap produk SKT yang menurun seiring kenaikan cukai yang tinggi ditambah dengan berkurangnya daya saing terhadap rokok yang diproduksi mesin.

"Jika terjadi PHK, bagaimana dengan nasib mereka? Siapa yang akan mempekerjakan mereka kembali. Siapa yang akan menyekolahkan anak-anak mereka?" tanya Sriyadi.

Kedua, perekonomian di sekitar lokasi produksi SKT, seperti warung, pedagang kaki lima, toko kelontong, transportasi dan kost akan turut terdampak. Padahal, penghidupan pemilik warung, toko kelontong, dan transportasi sangat bergantung pada buruh SKT yang bekerja di daerah tersebut. Praktis, perekonomian lokal akan lesu.

Melihat situasi ini, MPSI memohon perlindungan kepada Presiden Jokowi agar tidak menaikkan tarif cukai rokok kretek tangan sehingga para buruh linting tetap dapat bekerja dan memberikan nafkah bagi keluarga.

"Kami juga berharap pemerintah dapat menjauhkan tarif cukai rokok kretek tangan dengan rokok mesin sehingga produk kretek tangan tetap kompetitif, dan melindungi tenaga kerja kretek tangan," ujar Sriyadi. Ini poin prioritas mengingat kretek tangan merupakan segmen padat karya di mana satu pelinting mampu memproduksi tujuh batang per menit, sementara satu mesin dapat menghasilkan 16.000 batang per menit.

(fdl/fdl)