Menggeluti Tani, Para Milenial Ini Hasilkan Omzet hingga Ratusan Juta

Yudistira Imandiar - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2020 20:49 WIB
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengendarai traktor pemotong tanaman padi saat panen raya di Desa Rancaseneng, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Banten, Selasa (28/7/2020).
Foto: Agung Pambudhy-ilustrasi
Jakarta -

Dalam acara Tik-Talk Kementan, sejumlah petani milenial mengajak anak muda Indonesia untuk menekuni dan menggeluti dunia pertanian. Mereka mengungkapkan pertanian merupakan sektor strategis untuk meraup penghasilan.

Agus Ali Nurdin misalnya, petani milenial yang pernah ikut magang Kementan di Jepang ini menceritakan penghasilannya dari usaha tani bisa mencapai Rp 500 juta per bulan. Saat ini hasil sayurannya disuplai ke berbagai outlet, mall dan restoran Jepang yang ada di Jakarta.

"Kuncinya hanya satu, tanam, tanam dan tanam. Karena sejatinya manusia membutuhkan makanan dan produksi akan berjalan setiap harinya," ujar Agus dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2020).

Menurut Agus, anak muda harus belajar memanfaatkan waktunya sendiri untuk sesuatu yang lebih produktif. Anak muda harus mampu menjadi inisiator perubahan bangsa yang lebih baik. Karena itu, ia berharap mereka mampu memanfaatkan berbagai fasilitas dan menyerap program pemerintah yang berkaitan dengan pertanian.

"Saya sudah membuktikan bahwa binaan Kementan bisa produktif dan inovatif dalam memajukan sektor pertanian," katanya.

Sementara itu, petani milenial lainnya yang mengembangkan beras organik pringkasap, Dedi Mulyadi menyampaikan sukses seorang petani adalah keberanian dalam berinovasi.

"Selain berinovasi kita juga tidak boleh sendirian. Sebagai petani kita perlu tergabung dalam kelompok tani untuk menambah pengetahuan," pesannya.

Sebagai petani, Dedi mengungkapkan mampu mengantongi omzet bersih hingga Rp 100 juta per bulan.

Lain lagi dengan Pradizzia Triane yang termotivasi mengembangkan usaha ternak. Ia kini merintis usaha peternak telur ayam kampung.

"Sebagai alumni dari Polbangtan Bogor, saya ingin memanfaatkan ilmu yang saya dapat ketika di Polbangtan. Saya berharap bisa memberikan lapangan pekerjaan nantinya," ungkapnya.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri menyampaikan regenerasi petani merupakan kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, Kuntoro berharap petani milenial dapat menjadi inspirasi bagi seluruh anak muda Indonesia.

"Kita semua bisa menjadi pahlawan pangan. Dan saya kira dengan menjadi petani milenial kita bisa membantu ketahan pangan," ulasnya.

(ega/hns)