BKPM Jamin Realisasi Investasi RI Capai Rp 817 T, Ekonom: Sulit

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 25 Okt 2020 17:20 WIB
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), menggelar uji coba Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), di kantor pusat BKPM, Jakarta, Kamis (15/01/2015). Perizinan terintegrasi yang sering disebut one stop service ini diyakini dapat memangkas waktu pengurusan perizinan usaha.
Foto: rengga sancaya
Jakarta -

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menargetkan realisasi investasi tahun ini sebesar Rp 817,2 triliun. Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menjamin pihaknya bisa mencapai target tersebut di akhir tahun ini.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai target realisasi investasi dari BKPM terbilang cukup tinggi dan sangat menantang. Sebab jika melihat data di tahun sebelumnya 2 kuartal terakhir biasanya realisasi investasi tidak terlalu signifikan.

"Kalau berbicara target realisasi investasi berarti BKPM atau pemerintah memerlukan pertumbuhan realisasi investasi sebesar 103% untuk bisa mencapai target investasi sebesar Rp 817 triliun di akhir tahun. Ini cukup menantang karena melihat tahun 2019 pertumbuhan total investasi baik itu PMA dan PMDN di kuartal III dan IV secara agregat hanya bisa mencapai 14%," terangnya kepada detikcom, Minggu (25/10/2020).

Memang, lanjut Yusuf, kondisi perekonomian sudah lebih baik dari kuartal sebelumnya. Namun tentu sangat sulit mengejar target realisasi investasi di sisa waktu hanya 3 bulan saja.

"Jadi meskipun ada peluang meningkat, peluang untuk tercapainya target investasi di tengah pandemi memang agak sulit terjadi," terangnya.

Sementara Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai, target itu akan sulit tercapai jika hanya mengandalkan dari penanaman modal asing (PMA). Sebab ekonomi domestik saat ini masih dihantui pelemahan daya beli yang tentunya dipantau oleh investor asing.

"Kalau mereka investasi kan pertimbangannya market indonesia gimana dalam jangka pendek dan panjang. Sektor otomotif misalnya pasti terganggu dengan daya beli yang turun dan mobilitas yang rendah selama pandemi," terangnya.

Menurut Bhima, ketimbang BKPM sibuk mengejar investasi baru yang dia nilai terlalu muluk, jauh lebih baik untuk fokus mengejar realisasi dari komitmen investasi yang sudah ada.

"Masih banyak kan jauh sebelum komitmen mau masuk ke Indonesia, ini butuh follow up apa yang jadi hambatan. Ibaratnya jemput bola ke investor yang sebelumnya berkomitmen masuk," terangnya.

"Andaikan realisasi investasi yang sebelumnya macet itu cepat maka ada harapan penciptaan lapangan kerja bisa kembali pulih meski butuh waktu karena investasi langsung atau FDI perlu pembebasan, bangun pabrik, datangkan mesin baru rekrut pegawai dalam jumlah besar," tambahnya.

Sebelumnya Bahlil mengatakan, target realisasi investasi sudah beberapa kali direvisi, dari sebelumnya Rp 886,1 triliun menjadi Rp 817,2 triliun. Revisi dilakukan karena efek pandemi COVID-19. Tapi dia memastikan optimisme tersebut berdasarkan perhitungan matang.

"Saya ingin mengatakan bahwa BKPM membuat target optimis itu bukan 'bim salabim' tapi selalu disertai dengan analisa, kajian, data, dan melihat peta kondisi yang ada. Jadi Insyaallah kami tidak bermaksud mengatakan over confidence tapi di akhir 2020 nanti Insyaallah Rp 817 triliun itu bisa tercapai," kata dia dalam paparan realisasi investasi secara virtual, Jumat (23/10/2020).

(das/dna)