Penjualan Bir Anjlok, Pengusaha Bikin Alkohol Tanpa Kedaluwarsa

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 26 Okt 2020 13:55 WIB
Ilustrasi bir
Ilustrasi/Foto: Thinkstock
Jakarta -

Bisnis industri bar dan restoran di Jepang mengalami penurunan signifikan. Penjualan bir di Jepang tercatat turun 26%. Penurunan itu akibat pandemi COVID-19 yang juga menyebabkan Summer Olympics batal dan ekonomi negara itu terpuruk.

Dikutip dari CNN, Senin (26/10/2020) Isamu Yoneda, pemilik produsen bir asal Jepang Kiuchi Brewery mengatakan penurunan pada penjualan bir menjadi pukulan untuk produsen bir kecil. Yoneda mengaku bisnisnya telah kehilangan sejumlah pelanggan dan pesanan ekspornya. Kini pabriknya dipenuhi tumpukan bir.

Oleh sebab itu Yoneda mencari solusi, salah satunya mengubah bir menjadi minuman beralkohol yang berbeda, yakni gin. Gin adalah sebuah minuman beralkohol namun tidak memiliki masa kedaluwarsa. Tidak seperti bir yang memiliki kedaluwarsa selama empat hingga enam bulan.

Yoneda, mengungkap bukan kali pertamanya pabriknya Kiuchi Brewery mengubah bir menjadi gin. Kebanyakan gin dibuat dengan bahan dasar biji-bijian seperti barley, rye atau gandum, yang difermentasi menjadi tumbuk, kemudian disuling menjadi minuman keras netral yang tahan lama. Setelah itu, disuling untuk kedua kalinya dengan buah juniper dan tumbuhan lainnya yang menambah rasa.

Yoneda mengungkapkan, bir yang dijadikan gin menjadi pahit. Maka dalam prosesnya, pembuatan gin juga menggunakan buah paprika sansho, lemon, dan mikan. Hal itu dilakukan untuk menyeimbangkan rasa pahit dan asam.

Dalam proses penyebarluasan ke sejumlah bar, Kiuchi meminta mereka untuk mengirim minimal 20 liter bir yang tidak terpakai, yang akan dikirim kembali sebagai gin. Kiuchi dapat menghasilkan delapan liter gin dari setiap 100 liter bir. Kemudian bisa menghasilkan botol gin 750ml standar atau sebagai koktail gin, baik dalam kaleng atau tong untuk digunakan dalam keran.

Kiuchi bukan satu-satunya tempat pembuatan bir yang menggunakan bir untuk membuat gin. Ethical Spirits & Co mengubah sisa sake menjadi semangat baru. Salah satu pendiri Chikara Ono mengatakan perusahaan mulai menjajaki resep baru untuk membuat gin dari bir.

Pada bulan Mei, mereka menerima sumbangan 20.000 liter bir Budweiser yang kedaluwarsa dari raksasa minuman AB InBev, yang memiliki kelebihan stok karena penurunan penjualan. Perusahaan rintisan tersebut menggunakan bir untuk membuat 4.500 botol gin.

Ethical Spirits saat ini masih dalam proses membangun penyulingan sendiri di Tokyo, yang dijadwalkan buka pada bulan Desember. Pabrik itu berkolaborasi dengan penyulingan sake Gekkeikan untuk menyaring Budweiser.

Penyulingan gin pertama di Jepang dibuka empat tahun lalu di Kyoto. Pasar gin saat ini diperkirakan bernilai US$ 209 juta dan diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,4% setiap tahun selama tiga tahun ke depan. Perusahaan minuman besar, termasuk raksasa wiski Jepang Suntory dan Nikka, telah membantu meluncurkan gin Jepang ke panggung internasional.

Tren minuman di Jepang mengarah ke gin soda dan koktail kaleng siap minum. Tentu menciptakan peluang bagi produsen yang kreatif untuk menggunakan kembali kelebihan stok bir secara berkelanjutan.

(eds/eds)