7 Strategi Kementan Hadapi Bahaya La Nina di Musim Tanam

Nurcholis Maarif - detikFinance
Senin, 26 Okt 2020 16:16 WIB
Musim hujan telah tiba, petani di Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Pangandaran turun ke sawah. Mereka berharap musim tanam perdana tahun 2020 ini berjalan lancar.
Ilustrasi/Foto: Faizal Amiruddin
Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan tujuh langkah untuk menghadapi fenomena La Nina yang juga akan berdampak pada sektor pertanian Indonesia. Apalagi fenomena tersebut bertepatan dengan musim tanam Oktober-Maret atau MT I Okmar.

Pertama, mapping wilayah sistem banjir. Kedua, early warning system dan rutin pantau informasi BMKG. Ketiga, pengerahan brigade La Nina (Brigade DPI-OPT), brigade alsin dan tanam, brigade panen dan serap gabah kostraling.

Keempat, pompanisasi in-out dari sawah, rehabilitasi jaringan irigasi tersier/kuarter. Kelima, menggunakan benih tahan genangan, seperti inhara 1-10, inpari 29, inpari 30, Ciherang, dan lain sebagainya. Keenam, asuransi usaha tani padi dan bantuan benih gratis bagi puso. Ketujuh, panen, dryer/pengering, dan RMU.

"Di saat kita mempersiapkan (MT I Okamr ) ini, kita akan menghadapi La Nina. Kasarnya, akan ada ancaman banjir, longsor, akan ada kegagalan panen pada daerah tertentu karena airnya banyak, ada gejala hama yang mungkin muncul karena banjir," ujar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam webinar, Senin (26/10/2020).

"Ada 7 hal yang harus dipersiapkan untuk wilayah daerah rawan banjir. Saya istilahkan ada daerah merah, ada darah kuning, apa yang dilakukan daerah kuning beda dengan daerah hijau. Yang kedua, early warning, rajin-rajin tanya BMKG di daerah saya itu gimana," imbuhnya.

Syahrul juga menjelaskan brigade La Nina harus selalu siap dari sekarang dan pompanisasi in-out harus dilakukan agar kelancaran air pembuangan bisa dilakukan. Lebih lanjut ia menekankan agar stakeholder pertanian tidak takut berlebihan terhadap La Nina, tapi mempersiapkan kemungkinan yang bakal terjadi.

"La Nina datang, tapi kita persiapkan. Jangan juga ada yang takut berlebihan kepada La Nina. Karena pengalaman La Nina yang ada hanya menghancurkan tidak lebih dari 30-40 ribu hektare, kita punya 8,2 juta hektare," ujar SYL.

"Ada kemungkinan bencana, tapi sepanjang kita mampu mempersiapkan pengendalian-pengendalian bencana itu, maka akan kita kendalikan," imbuhnya.

(akn/hns)