Anak Muda Terancam Nganggur hingga Putus Sekolah Gegara Pandemi

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 26 Okt 2020 16:40 WIB
Poster
Ilustrasi/Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Generasi muda di masa pandemi COVID-19 ini menjadi generasi paling terpukul, terutama anak dengan kemampuan ekonomi rendah. Sebab prospek pekerjaan untuk mereka lebih sedikit dan dikhawatirkan akan berdampak jangka pajang di masa depan mereka.

Dikutip dari BBC, Senin (26/10/2020) survei menemukan orang berusia 16-25 lebih mungkin kehilangan pekerjaan mereka dibandingkan pekerja yang lebih tua, sementara 6:10 mengalami penurunan penghasilan.

Selain pekerjaan, dunia pendidikan pada remaja dan anak muda saat ini juga mengkhawatirkan. Banyak siswa miskin tidak bersekolah, survei oleh London School of Economics (LSE) seperempat siswa, sekitar 2,5 juta anak tidak bersekolah atau les selama lockdown.

Studi tersebut menambahkan, hampir tiga perempat siswa sekolah swasta menjalani hari-hari penuh belajar dengan presentase belajar sebesar 74% dibadingkan siswa sekolah negeri yang prospek belajarnya hanya 38%. Studi itu menunjukkan bahwa akan banyak siswa dari keluarga miskin yang akan mengalami kekurangan pendidikan.

Departemen Pendidikan London atau Department for Education mengatakan menyediakan 58 juta poundsterling setara Rp 1,1 triliun (kurs Rp 19.148) untuk membantu sekolah dengan biaya tambahan Covid. Sedangkan Departemen Pekerjaan dan Pensiun London berencana membuat skema penawaran bekerja dengan upah minimum selama 6 bulan, program magang, dan pelatihan kerja.

Dengan kasus COVID-19 yang meningkat London sekarang menjadi kota dengan kasus tertinggi di Inggris.

Pergolakan dan ketidakpastian pandemi COVID-19 juga berdampak pada kesehatan mental kaum muda. Penelitian yang dilakukan oleh Samaritans dan University of Glasgow menemukan orang dewasa muda 18-29 tahun lebih mungkin melaporkan gejala depresi dan pikiran untuk bunuh diri daripada orang tua.

(eds/eds)