Seberapa Besar Dampak Pemilu AS ke RI, Ini Kata Sri Mulyani

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 27 Okt 2020 21:55 WIB
close up
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, dampak ketidakpastian dari pemilu presiden Amerika Serikat (AS) tidak berpengaruh terhadap perekonomian nasional. Menurut dia, yang berdampak besar bagi perekonomian Indonesia adalah jumlah positif COVID-19 yang negeri Paman Sam dan Eropa.

Sri Mulyani mengatakan, penambahan jumlah kasus positif COVID-19 di AS dan Eropa akan berdampak pada pergerakan ekonomi. Sebab, negara-negara tersebut bisa kembali menerapkan PSBB atau lockdown.

"Sebetulnya yang lebih memberikan sentimen saat ini adalah mengenai kenaikan jumlah COVID di AS dan Eropa, yang menyebabkan banyak negara melakukan pengetatan PSBB-nya kembali," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers KSSK secara virtual, Jakarta, Selasa (27/10/2020).

"Mulai dari di London, Spanyol, Italia, Prancis, dan juga AS, kenaikannya cukup tinggi yang menimbulkan kekhawatiran mengenai control ability dan kemungkinan munculnya second wave," tambahnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan, dampak pemilu AS akan lebih berpengaruh pada perekonomian dunia khususnya di sektor keuangan.

"Untuk sisi politik, saya rasa dari sisi pasar keuangan sudah price in dinamika yang terjadi di AS dan saya rasa itu akan terus menjadi dinamika dari keseluruhan geopolitik di dunia ini yang menjadi faktor menentukan untuk keseluruhan momentum dan sentimen positif," katanya.

Meski begitu, dirinya mengaku pemerintah bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tetap menjaga stabilitas sistem keuangan (SSK) nasional melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Begitu juga dengan penyebaran kasus COVID-19 terus ditangani pemerintah.

"COVID kita tetap kendalikan, dan kita tetap jaga SSK. Itu semua adalah elemen-elemen untuk terus menjaga, bertahap momentum pemulihan. Kalau kita tetap jaga itu, Indonesia mungkin bisa termasuk ke dalam negara-negara yang bisa tetap menjaga keseimbangan dalam situasi yang tidak mudah itu," ungkapnya.

(hek/dna)