Anak Dipaksa Jadi PNS? Sudah Nggak Zaman!

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 28 Okt 2020 09:11 WIB
Ratusan orang mengantre membuat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) di Polres Jakarta Timur, Kamis (05/09/2013). Pembuatan SKCK merupakan salah satu syarat bagi para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk mengikuti ujian masuk menjadi PNS. File/detikFoto.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Masih banyak orang tua yang mendambakan anaknya bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Mereka menilai PNS bisa memberikan jaminan penghidupan bagi anaknya hingga tua.

Pola pikir seperti itu seharusnya sudah tidak ada lagi. Di era serba digital seperti saat ini, banyak peluang untuk menuju kesuksesan tanpa harus menjadi PNS.

Motivator sekaligus Co-Founder dari sejumlah perusahaan yang berada di bawah naungan induk usaha CPN Group, Chandra Putra Negara menilai pola pikir seperti itu tidak terlepas dari sejarah Indonesia yang dijajah Belanda selama 3,5 abad.

"Bangsa Indonesia dijajah pemerintah Belanda terlalu lama 350 tahun dan mungkin kerja rodi itu masih tertanam kuat di nenek moyangnya orang bangsa Indonesia. Ditambah lagi kita sudah merdeka 75 tahun dan kita perhatikan orang-orang yang sekarang usia 40 ke atas mereka masih mendambakan anak mereka itu menjadi ASN atau PNS," ucapnya dalam acara d'Mentor.

Padahal jika sebuah negara ingin maju ekonominya harus memiliki pondasi UKM yang kuat. Setidaknya dibutuhkan pengusaha sebanyak 7% dari total populasi sebuah negara jika ingin ekonominya maju. Menurut Chandra, hal itu terbukti di negara-negara Asia seperti China, Jepang bahkan Singapura.

"Kita lihat China begitu menjadi sebuah ekonomi yang raksasa sekarang, itu karena mental pengusaha mereka tuh cukup besar. Sehingga mereka tidak tergantung," katanya.

Sementara di Indonesia, hingga saat ini mayoritas dari orang tua ingin anaknya menjadi PNS. Itu pun terbukti dari peminat yang begitu besar ketika lowongan CPNS dibuka setiap tahunnya.

Padahal di era digital saat ini, profesi PNS bisa saja tergerus dengan adanya teknologi robotic dan artificial intelligence.

"Oleh sebab itu, harusnya orang tua zaman sekarang itu tidak lagi menganut sistem old mindset seperti zaman Belanda yang ditanamkan dengan begitu kuat oleh kakek atau nenek kita," ucap Chandra.

Menurutnya, saat ini begitu banyak anak muda yang sukses berkreasi dengan memanfaatkan teknologi dan internet. Misalnya menjadi content creator, konsultan digital hingga berjualan melalui media sosial dan e-commerce.

Profesi-profesi seperti itu kebanyakan diremehkan oleh orang tua. Sehingga seringkali anak muda berselisih paham dengan orang tuanya.

"Sehingga terjadi gap generation, ketika terjadi gap generation inilah terjadi perdebatan yang tidak ada akhirnya," tambahnya.

Chandra mengimbau kepada seluruh orang tua di Indonesia untuk memberikan ruang bagi anak-anaknya berkreasi dalam mencari penghasilan. Percaya saja kepada mereka dan akan mereka akan mengejutkan orang tua dengan kesuksesan yang sama sekali tidak terpikirkan.

(fdl/fdl)