Ekonominya Melonjak, AS Masih Gagal Keluar Jurang Resesi

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 30 Okt 2020 11:14 WIB
WASHINGTON, DC - DECEMBER 24:  Trash begins to accumulate along the National Mall near the Washington Monument due to a partial shutdown of the federal government on December 24, 2018 in Washington, DC. The partial shutdown will continue for at least a few more days as lawmakers head home for the holidays as Democrats and the Trump administration cannot agree on an amount of funding for border security. (Photo by Win McNamee/Photo by Win McNamee/Getty Images)
Foto: Getty Images
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) masih gagal keluar dari jurang resesi meskipun pertumbuhan ekonominya di kuartal III-2020 mencetak rekor tertinggi. Ekonomi Negeri Paman Sam tumbuh 33,1% usai pembukaan aktivitas pada sejumlah sektor usaha.

Namun begitu, ekonomi AS belum terselamatkan dari jurang resesi yang disebabkan oleh pandemi COVID-19. Perekonomian AS tercatat tetap lebih rendah 3,5% dibandingkan akhir 2019. Jika dilihat data kuartalan, ekonomi AS tumbuh 7,4% dari kuartal kedua dan ketiga, namun dibandingkan kuartal I dan kuartal III turun 9%.

"Perekonomian pada kuartal III masih akan jauh di bawah apa yang terjadi sebelum COVID, jauh di bawah kedalaman resesi bahkan setelah rekor pertumbuhan masih akan sedalam resesi yang sangat dalam, seperti resesi 2008," kata Justin Wolfers, ekonom dari Universitas Michigan seperti yang dikutip Fox Business, Jumat (30/10/2020).

Kementerian Perdagangan AS menghitung produk domestik bruto (PDB) setiap kuartal seolah-olah tingkat pertumbuhan tersebut dipertahankan selama setahun penuh. Pada saat terjadi perubahan besar ke atas atau ke bawah maka hal ini dapat membesarkan penurunan pertumbuhan atau rebound berikutnya. Pasalnya, kuartal III diukur terhadap kuartal II yang basis ekonominya rendah.

Ekonomi AS hampir terhenti pada awal tahun ini demi memutus rantai penyebaran COVID-19. Hingga sekarang sudah lebih dari 9 juta orang Amerika terinfeksi dan menewaskan 227.000 orang, angka ini paling banyak di dunia.

"Meskipun PDB kuartal ini relatif kuat, kami harus ingat bahwa nilai ini memiliki kurva yang besar, ini benar-benar merupakan tolok ukur terhadap penurunan kuartal II,: kata Steve Rick, kepala ekonom di CUNA Mutual Group.

(hek/eds)